Krisis Air Melanda Pakisjaya! 600 Hektare Sawah Terancam, Ini Respons H. Budiwanto

Anggota Komisi II DPRD Jabar dari Fraksi PKS H. Budiwanto, S.Si., M.M.

KARAWANG-Kekeringan kembali menjadi persoalan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Karawang.

Di Kecamatan Pakisjaya, sekitar 600 hektare lahan persawahan dilaporkan terdampak krisis air, sehingga berpotensi mengganggu produktivitas pertanian dan mengancam keberlangsungan musim tanam petani.

Bacaan Lainnya

Kekeringan 600 ha menjadi viral setelah seorang petai di Pakisjaya  Muhamad Rizal Arrizqi, menyampaikan keluhan tersebut melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri Pekerjaan Umum, serta Menteri  Pertanian.

Rizal meminta pemerintah melihat langsung kondisi lahan pertanian di wilayah Pakisjaya yang telah mengalami kekeringan selama hampir tiga bulan.

“Pak, tolong lihat kondisi petani yang ada di wilayah Kecamatan Pakisjaya. Kami di sini mayoritas 100 persen petani. Dampaknya hampir 90 persen,” ungkapnya dalam video yang diunggah di media sosial.

Situasi ini turut mendapat perhatian dari anggota Komisi II DPRD Jabar, H. Budiwanto, S.Si., M.M.,. Ia menilai persoalan kekeringan di wilayah pertanian perlu ditangani secara cepat dan terukur, terutama pada wilayah yang menjadi sentra produksi pangan.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan langkah penanganan di lapangan benar-benar menyentuh kebutuhan petani. Selain bantuan air, penanganan kekeringan juga perlu dilakukan dengan memperkuat sistem irigasi dan memastikan distribusi air berjalan secara optimal.

“Persoalan kekeringan ini jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. Petani membutuhkan kepastian air agar tanaman mereka bisa diselamatkan dan produksi pertanian tetap berjalan,” ujarnya.

H. Budiwanto juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, petugas pengairan, pemerintah desa, hingga kelompok tani dalam menghadapi kondisi tersebut.

Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika kekeringan sudah terjadi. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi, termasuk pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan infrastruktur irigasi, serta penyediaan sumber air alternatif bagi lahan pertanian yang mengalami krisis air.

“Yang paling penting adalah bagaimana petani tidak menanggung sendiri dampak dari kondisi ini. Harus ada langkah konkret untuk membantu mereka,” katanya.

Kekeringan di Pakisjaya menjadi pengingat bahwa persoalan ketahanan pangan sangat berkaitan dengan ketersediaan dan tata kelola air. Terlebih Karawang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penting dalam produksi beras.

Karena itu, kondisi sekitar 600 hektare sawah yang terdampak kekeringan perlu menjadi perhatian bersama agar ancaman penurunan produksi maupun gagal panen dapat diminimalkan. (red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *