Praktik SIRAM : Ukur Air Wudu, Murid Al Azhar 35 Karawang Belajar Menggunakan Air Secukupnya

Murid kelas VIII mengikuti pembelajaran IPA yang menjadi awal lahirnya SIRAM. (Foto: Dok. SMP Islam Al Azhar 35 Karawang)

Lewat praktik pembelajaran SIRAM, 23 murid kelas VIII menyelidiki penggunaan air saat berwudu dengan alat ukur sederhana, lalu menjadikan datanya bahan refleksi dan kebiasaan baru.

KARAWANG-Berapa liter air yang terpakai setiap kali berwudu? Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk pembelajaran di SMP Islam Al Azhar 35 Karawang.

Guru IPA Lusi Lusnayanti, M.Pd., Gr., mengajak murid kelas VIII mengukurnya sendiri melalui praktik bernama SIRAM (Science Investigation for Responsible Aqua Management), strategi pembelajaran STEAM yang memadukan sains, pengukuran, dan adab.

Lusi menjelaskan, gagasan itu bermula dari pelajaran IPA tentang Struktur dan Fungsi Tubuh Makhluk Hidup, yang membahas peran air bagi tubuh.

“Saya ingin pengetahuan murid tidak berhenti sebagai bahan hafalan, tetapi menjadi dasar keputusan sehari-hari. Konteks lokal turut menguatkan. Data BPBD Kabupaten Karawang tahun 2026 menunjukkan sejumlah wilayah kesulitan air bersih saat musim kemarau,” kata Lusi dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Jumat (9/10/2026).

Guru IPA SMP Al Azhar 35 Karawang Lusi Lusnayanti, M.Pd., Gr.

Seluruh 23 murid kelas VIII mengikuti pembelajaran dalam tiga fase. Pada fase pertama, mereka mengamati kebiasaan menggunakan air tanpa langsung menilainya boros atau hemat. Hasil observasi menunjukkan rata-rata keran terbuka selama 55,5 detik. Namun, waktu dan bukaan keran belum bisa menjawab berapa liter air yang sebenarnya terpakai.

Pertanyaan itu membawa murid ke fase kedua. Empat kelompok merancang alat sederhana bernama Wudhu-Meter, rangkaian water meter, selang, dan sambungan, lalu memakainya untuk mengukur volume, waktu, dan debit air. Pada fase ketiga, murid bersama guru PAI dan IPS menerjemahkan temuan menjadi poster kampanye, kemudian mengukur ulang.

Wudhu-Meter, alat sederhana untuk mengukur volume dan waktu penggunaan air wudu. (Foto: Dok. SMP Islam Al Azhar 35 Karawang).

Pengukuran dengan Wudhu-Meter dilakukan pada lima murid yang sama di setiap fase. Rata-rata volume air per wudu turun dari 3,26 liter menjadi 2,78 liter, atau 14,7 persen. Penurunan terjadi pada kelima murid, berkisar 13,3 sampai 15,8 persen. Rata-rata waktu keran terbuka turun dari 44 menjadi 41,2 detik, dan debit dari 4,44 menjadi 4,05 liter per menit. Hasil ini berasal dari lima murid yang diukur dan belum menggambarkan seluruh 23 murid.

Perubahan juga tampak dari refleksi murid. “Sekarang saya menggunakan air secukupnya,” tulis salah satu murid. Guru PAI turut menguatkan nilai adab dalam kegiatan ini. Menurut guru PAI tersebut, menggunakan air secukupnya merupakan bagian dari adab dalam berwudu dan bentuk rasa syukur terhadap nikmat Allah.

Lusi menekankan bahwa kesadaran tidak cukup dibangun melalui nasihat. Murid perlu mengalami sendiri proses memperoleh bukti, sementara Wudhu-Meter hanyalah alat untuk itu. Tujuan utamanya adalah perubahan cara berpikir dan bertindak.

Karya ini diikutsertakan dalam Apresiasi GTK Transformatif 2026. Ke depan, SIRAM direncanakan berlanjut melalui penggunaan kembali Wudhu-Meter, audit sederhana penggunaan air di sekolah, dan pengukuran digital. (red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *