KARAWANG-Karawang selama ini dikenal sebagai salah satu jantung industri nasional. Namun, di balik deretan kawasan industri dan geliat manufaktur, Kabupaten Karawang menyimpan potensi wisata alam, budaya, sejarah, kuliner, hingga wisata industri yang belum sepenuhnya tergarap.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Karawang bersama Pemerintah Kabupaten Karawang meluncurkan Karawang Tourism Board, Selasa (3/11/2026) di Brits Hotel, sebuah langkah strategis untuk memperkuat promosi dan pengembangan pariwisata daerah.
Peluncuran ini menjadi momentum penting dalam membangun kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pelaku industri pariwisata guna menjadikan Karawang sebagai destinasi wisata yang semakin dikenal, diminati, dan memiliki daya saing.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, KADIN Karawang juga menggelar table top bersama Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASTINDO).
Kegiatan ini mempertemukan pelaku pariwisata dan industri perjalanan untuk membuka jejaring bisnis sekaligus memperkenalkan beragam destinasi unggulan Karawang.
Ketua KADIN Karawang, H. Rafiudin Firdaus, mengatakan, Karawang memiliki potensi wisata yang sangat beragam dan perlu dikemas secara kreatif agar mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap destinasi wisata alam, budaya, sejarah, kuliner, serta wisata industri Karawang semakin dikenal luas dan masuk dalam pilihan paket perjalanan wisata. Karawang bukan hanya tempat bekerja dan berinvestasi, tetapi juga tempat yang menarik untuk dikunjungi dan dijelajahi,” ujar Rafiudin.
Kembangkan Karawang Industrial Tourism
Salah satu potensi yang ingin dikembangkan adalah Karawang Industrial Tourism, yakni konsep wisata yang mengintegrasikan kawasan industri, edukasi, teknologi, dan pengalaman dunia usaha.
Dengan statusnya sebagai salah satu pusat industri nasional, Karawang memiliki peluang untuk menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda, mulai dari pengenalan proses produksi dan teknologi, sejarah perkembangan industri, hingga edukasi tentang inovasi dan dunia kerja.
Konsep ini diharapkan dapat membuka segmen wisata baru, khususnya bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, dan wisatawan yang tertarik pada perkembangan industri modern.
Rafiudin menegaskan, pengembangan pariwisata membutuhkan sinergi lintas sektor agar potensi daerah tidak hanya menjadi daya tarik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Kami ingin membangun ekosistem pariwisata yang mampu menghubungkan potensi lokal dengan peluang bisnis. Ketika wisata berkembang, sektor lain seperti UMKM, kuliner, transportasi, perhotelan, dan ekonomi kreatif juga akan ikut bergerak,” tutupnya. (red).





