KARAWANG-Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya selalu menjadi ruang kontemplasi sekaligus pengingat akan lahirnya sosok agung yang membawa rahmat bagi semesta alam.
Bagi umat Islam, Maulid bukan hanya sebuah seremoni keagamaan, tetapi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah yang penuh cinta, kasih sayang, keadilan, dan kepedulian sosial.
Di tengah dinamika yang melingkupi bangsa Indonesia saat ini, keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi kompas moral yang amat penting. Kehadiran beliau sebagai pembawa risalah rahmatan lil ‘alamin mengajarkan manusia untuk membangun peradaban yang adil, damai, dan beradab. Semangat itu sangat relevan, terutama dalam merawat persatuan bangsa, menjunjung tinggi toleransi, serta menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, H. Budiwanto, S.Si., M.M., menilai bahwa Maulid Nabi harus menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen kebangsaan melalui teladan akhlak Rasulullah.
Menurutnya, keteladanan Nabi tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga menjadi energi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini jangan hanya dimaknai sebagai perayaan ritual belaka. Yang lebih penting adalah bagaimana kita semua mampu menghadirkan teladan beliau dalam keseharian, baik dalam sikap pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam menjaga keutuhan bangsa. Mencintai Rasulullah berarti menebarkan kebaikan, memperkuat ukhuwah, serta ikut andil menjaga negeri tercinta,” ujar H. Budiwanto, Jumat (5/9/2025).
Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah, seperti kejujuran, kepedulian, dan semangat kebersamaan, sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Dalam kondisi masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kesenjangan sosial, menurunnya etika publik, hingga potensi perpecahan akibat perbedaan pandangan, meneladani akhlak Nabi adalah solusi yang paling mendasar.
“Kalau kita menengok perjalanan Rasulullah, beliau selalu menempatkan persatuan umat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Inilah yang harus kita teladani. Indonesia hanya bisa kokoh jika warganya saling menjaga, saling menghormati, dan saling menguatkan. Semangat itulah yang sejalan dengan pesan Maulid,” tambahnya.
Momentum Maulid Nabi juga diharapkan menjadi energi baru bagi masyarakat untuk kembali meneguhkan persaudaraan, membangun budaya saling menolong, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi bukan hanya diwujudkan dalam ucapan dan peringatan seremonial, tetapi benar-benar hadir dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sekitar.
“Semoga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini benar-benar menjadi pengingat dan penggerak bahwa teladan beliau adalah cahaya yang harus menerangi jalan kehidupan pribadi, sosial, maupun kebangsaan. Indonesia akan semakin kuat jika akhlak Rasulullah hidup dalam perilaku masyarakatnya,” tutupnya. (red).





