Warga Perum Gading Elok I Keluhkan Pengerjaan Rekonduktoring SUTT yang Molor

Pekerjaan pondasi rekonduktoring SUTT 150 KV di Perum Gading Elok 1 Karawang Wetan.

KARAWANG-Warga Perumahan Gading Elok I Kelurahan Karawang Wetan Kecamatan Karawang Timur mengeluhkan molornya pengerjaan proyek rekonduktoring Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV yang melintas di kawasan permukiman mereka.

Proyek tersebut dinilai berlangsung lebih lama dari jadwal awal dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.

Seorang warga setempat yang tak ingin identitasnya dipublikasikan namanya menyebutkan aktivitas proyek yang berlarut-larut berdampak pada kenyamanan dan keamanan lingkungan. Selain kebisingan, warga juga mengkhawatirkan aspek keselamatan karena pekerjaan dilakukan di dekat rumah dan fasilitas umum.

“Akibat dari terbengkalainya proyek ini lingkungan jadi kumuh dan akses jalan ke Blok D tertutup. Yang terpenting ada bahaya mengancam dari proyek ini dimana pondasi tiang eksisting ikut tergali lebih dari satu setengah meter, ini mengakibatkan berkurangnya kekuatan pondasi ditambah dengan curah hujan tinggi menjadikan tanah sekitar pondasi tiang jadi lembek  ini beresiko terjadinya roboh tiang SUTT eksisting, apalagi dengan sering terjadi hujan disertai angin kencang,” katanya kepada delik.co.id, Senin (2/2/2026).

“Saya tidak bisa bayangkan kalau tiang itu roboh selain bobot tiang puluhan ton juga voltase listrik yang tinggi mencapai ratusan kilo volt,” timpalnya.

Menurutnya, izin pelaksanaan pembangunan pondasi tersebut ke warga sekitar hanya 1,5 bulan dimulai dari bulan November 2025, namun hingga akhir Januari 2026 belum kelar  juga.

“Artinya sudah telat alias molor, nyaris tiga bulan pembangunan tersebut belum beres juga,” keluhnya.

Warga berharap pihak pelaksana proyek dapat memberikan kejelasan terkait jadwal penyelesaian pekerjaan. Mereka juga meminta adanya sosialisasi yang lebih terbuka agar masyarakat mengetahui tahapan pekerjaan dan potensi dampak yang ditimbulkan.

Sementara itu, di lokasi pekerjaan konsultan pengerjaan rekondukting SUTT Hendo mengatakan, semua pekerja yang dilibatkan dalam pembangunan pondasi rekondukting SUTT di Gading Elok 1 telah memiliki sertifikat kompetensi.

“Dibilang aman ya wallahua’lam ya, tapi kami telah berpengalaman faktor-faktor itunya sudah kita kondisikan lah,” ujarnya.

Namun ia mengakui ada keterlambatan dalan penyelesaian pembangunan pondasi yang semestinya selesai dalam 1,5 bulan namun molor hingga hampir 3 bulan.

“Harusnya dalam satu bulan pembangunan pondasi itu sudah selesai. Tapi memang kontraktor ini modelnya disubkonkan lagi disubkonkan lagi,” ungkapnya.

Ketika disinggung molornya penyelesaian bangunan pondasi tersebut dianggap wanprestasi, Hendo tidak bisa memastikannya lantaran wewenang penilaian wanprestasi itu ada di ULTG Cirebon.

“Bukan kebijakan kami, kami hanya di lapangan,” ucapnya.

Tempat yang sama perwakilan Mainkontraktor PT Hasta Karya Perdana, Fikri, mengakui ada keterlambatan penyelesaian pembangunan pondasi SUTT. Namun terkait kendala dan sosialisasi ke warga sekitar, Fikri meminta awak meda langsung menanyakan ke subkontraktor bernama Reki.

“Kalau sosialisasi sebenarnya bukan urusan mainkontraktor tapi ke subkontraktor Pak Reki yang berbaju hitam,” ucapnya sambil menunjukan ke awak media subkontraktor bernama Reksi.

Sementara itu Reki ketika dikonfirmasi berdalih keterlambatan penyelesaian pondai SUTT karena ada waktu libur selama dua pekan dan faktor cuaca hujan. (red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *