KARAWANG-Momentum Hari Tani Nasional 20206 menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk semakin serius memperkuat sektor pertanian, khususnya di Kabupaten Karawang yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah sentra produksi padi nasional.
Sebagai salah satu lumbung padi, sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam menopang ketahanan pangan. Karena itu, perhatian terhadap produktivitas pertanian, kualitas hasil produksi, ketersediaan air hingga kesejahteraan petani dinilai perlu terus ditingkatkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Komisi II DPRD Karawang, Apt. Mumun Maemunah, M.Farm, menyikapi Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September.
Menurut Mumun, persoalan seperti kekeringan, ancaman gagal panen, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian serta berbagai tantangan lainnya masih menjadi pekerjaan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Momentum Hari Tani Nasional juga dinilai tidak cukup hanya menjadi seremoni tahunan. Pemerintah daerah diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang benar-benar memberikan dampak langsung bagi petani, mulai dari penguatan irigasi, penyediaan sarana produksi, peningkatan kapasitas petani, perlindungan lahan pertanian hingga kepastian pasar bagi hasil produksi.
“Selain mempertahankan produktivitas petani yang sudah ada, regenerasi petani juga menjadi tantangan penting. Pemerintah perlu mendorong munculnya petani-petani milenial yang mampu memanfaatkan teknologi, inovasi dan sistem pertanian modern,” ujar politisi PKS tersebut.
Legislator dari Dapil Karawang III itu menegaskan, kehadiran generasi muda di sektor pertanian diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus menopang program ketahanan pangan nasional.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor pertanian Karawang tidak hanya diharapkan mampu mempertahankan predikat sebagai salah satu sentra produksi pangan, tetapi juga memberikan kehidupan yang lebih layak bagi para petaninya.
Hari Tani Nasional pada akhirnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya diukur dari tingginya produksi, tetapi juga dari seberapa jauh petani mendapatkan perlindungan, kepastian dan peningkatan kesejahteraan.
“Karawang membutuhkan pertanian yang kuat, petani yang berdaya, serta regenerasi petani yang berkelanjutan. Dari sanalah cita-cita “Petani Berdaulat dan Sejahtera” dapat diwujudkan,” tutup Mumun. (red).





