KARAWANG-Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Karawang menggelar kegiatan “Kemenag Mengaji” yang berlangsung di Pondok Pesantren Gema Insan Cendekia (GIS) di Kampung Kedungsari RT 001/004, Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari pada Kamis (9/10/2025) malam.
Kegiatan yang sekaligus menjadi acara launching rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Karawang 2025 turut dihadiri oleh Kasubbag TU, para kepala seksi dan penyelenggara, para kepala KUA, penyuluh agama , pengawas madrasah dan PAI serta kepala madrasah di lingkungan Kemenag Karawang.
Kepala Kantor Kemenag Karawang, H. Sopian, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya Kemenag Mengaji dengan baik.
Ia menyebutkan bahwa saat ini sudah ada 10 LAZ yang terdaftar dan bersinergi dengan program Kemenag Mengaji. Salahsatunya menyantuni anak yatim yang rutin dilakukan secara konsisten termasuk Kemenag Mengaji hari ini diberikan santunan kepada lima puluh penerima.
Menurutnya, kegiatan hari ini menjadi bagian dari rangkaian HSN di Kabupaten Karawang. Rangkaian ini akan dilanjutkan dengan halaqah para kiai yang akan melibatkan 567 pesantren di Kabupaten Karawang untuk mewujudkan pesantren ramah anak yang dilaksankan secara Hybrid pada 15 Oktober 2025 dan pelaksanaan donor darah bekerjasama dengan PMI pada 20 Oktober 2025 serta Apel HSN pada 22 Oktober 2025.
Kepala kantor yang baru saja meraih gelar doktor di UNINUS ini juga mengumumkan prestasi jajarannya, yaitu menempati posisi pertama wakaf uang se-Jawa Barat per tanggal 9 Oktober 2025 dengan total pengumpulan mencapai Rp85.170.000. Dana ini akan dikelola oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) Provinsi Jawa Barat.
Sementara itu, CEO Gema Indonesia Sejahtera ( GIS ), Harsono, dalam sambutannya menyampaikan, terima kasih atas kepercayaan Kemenag yang telah menjadikan Pondok Pesantren Insan Cendekia sebagai tuan rumah agenda penting ini. Ia menekankan bahwa hal ini merupakan suatu kehormatan.

GIS, yang juga merupakan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Jawa Barat dengan kantor pusat di Kota Bekasi, berfokus pada pendidikan dan pondok pesantren tahfidz. Harsono mencontohkan program GIS yang telah berjalan, di antaranya adalah program pinjaman bergulir tanpa bunga untuk menghilangkan praktik riba. Program serupa juga dijalankan di Kecamatan Purwasari dengan 200 penerima manfaat.
“Kami menghimpun ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dari umat dan mengembalikannya kepada umat, bersinergi dengan Kemenag. Ini menjadi wasilah menuntaskan kemiskinan secara cepat, dengan harapan penerima manfaat yang tadinya mustahik (penerima zakat) bisa berubah menjadi muzakki (pemberi zakat),” ujar Harsono.
Pembina GIS, Wahyu Widodo, menambahkan bahwa pesantren GIS tergolong baru, berdiri pada tahun 2021. GIS, yang didirikan sejak 2010, menguatkan program unggulan tahfidz, kompetensi sosial, dan kewirausahaan bagi santri. Ia berharap pesantren dapat membawa kebermanfaatan bagi santri dan masyarakat sekitar.
Wahyu Widodo juga menyoroti peran strategis Karawang dalam perwakafan.
“Karawang memiliki potensi luar biasa untuk menjadi Kota Wakaf dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menjadikannya modal untuk produktivitas yang ditingkatkan guna menyejahterakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan,” jelasnya.
Selanjutnya, sesi tausiyah yang disampaikan oleh H. Yasin MN, Pengawas PAI, yang berfokus pada peran orang tua dalam mendidik anak di era digitalisasi. Ia memaparkan tiga indikator utama untuk menghadapi arus globalisasi yaitu, pertama, muroqobatul qowiyah atau pengawasan yang ketat dari orang tua. Kedua, qudwatul walidaini atau Contoh dan keteladanan yang baik dari orang tua. Serta ketiga, attarbiyah diniyah atau pendidikan agama yang kuat agar anak tidak mudah tergoyahkan oleh derasnya arus globalisasi. (red).





