JABAR-Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Komisi II sekaligus anggota Pansus 13 LKPJ Gubernur 2025, H. Budiwanto, menegaskan bahwa Bandara Internasional Kertajati merupakan aset strategis yang harus dioptimalkan sebagai penggerak utama perekonomian daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum pembahasan LKPJ Gubernur Tahun 2025 pada rapat dengar pendapat (RDP) bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yakni Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Jawa Barat, Biro Badan Usaha Milik Daerah, Investasi dan Administrasi Pembangunan (Biro BIA) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, bandara yang dibangun di atas lahan sekitar 1.800 hektare tersebut bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi juga simbol kemajuan dan gerbang ekonomi Jawa Barat di masa depan.
“Kertajati ini adalah mercusuar Jawa Barat. Jangan sampai hanya menjadi ikon tanpa aktivitas. Justru harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi, terutama dari sektor jasa angkutan udara dan konektivitas logistik,” ujar H. Budiwanto, Jumat (24/4/2026).
Legislator dari Dapil Jabar X (Karawang-Purwakarta), menilai, berbagai kendala yang saat ini dihadapi Kertajati, mulai dari keterbatasan rute penerbangan hingga rendahnya okupansi penumpang, tidak boleh dijadikan alasan stagnasi. Sebaliknya, hal tersebut harus menjadi tantangan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membangun kolaborasi yang lebih luas.
Ia mendorong sinergi antara pemerintah daerah dengan maskapai penerbangan, baik BUMN maupun swasta, serta investor strategis untuk mengembangkan model bisnis bandara yang lebih adaptif.
“Tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada kolaborasi multipihak, termasuk membuka peluang investasi. Pemerintah tidak harus selalu menjadi pemain utama dalam pembiayaan,” tegasnya.
Secara strategis, Kertajati dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi pusat logistik udara (air cargo hub) sekaligus pusat perawatan pesawat (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO).
Posisi geografisnya yang berada di kawasan industri Jawa Barat bagian timur serta relatif dekat dengan pelabuhan dan kawasan manufaktur menjadi nilai tambah tersendiri.
Ia juga menyebut peran Kertajati sebagai bandara penyangga bagi Bandar Udara Soekarno-Hatta sangat potensial, terutama untuk distribusi beban penerbangan dan logistik nasional.
“Ke depan, Kertajati harus disiapkan menjadi bandara nasional dan internasional secara bertahap, bukan hanya alternatif tetapi juga pelengkap strategis,” ujarnya.
Salah satu faktor krusial yang disoroti adalah aksesibilitas menuju bandara. Saat ini, keberadaan Tol Cisumdawu memangkas waktu tempuh dari Bandung menjadi sekitar 1,5 hingga 2 jam. Namun, Budiwanto menilai hal tersebut masih perlu ditingkatkan agar lebih kompetitif.
Ia menargetkan waktu tempuh Bandung–Kertajati bisa ditekan hingga maksimal satu jam melalui integrasi moda transportasi.
“Harus ada sistem pendukung seperti travel bandara, kereta cepat, atau moda transportasi massal lainnya. Konsumen harus bisa mengakses bandara dengan cepat, nyaman, dan pasti,” jelasnya.
H. Budiwanto menegaskan bahwa keberhasilan bandara tidak hanya diukur dari jumlah penerbangan, tetapi juga dampaknya terhadap sektor lain seperti pariwisata dan investasi.
Ia mencontohkan sejumlah daerah di Indonesia seperti Bali, Yogyakarta, Surabaya, Nusa Tenggara Barat, hingga Makassar yang mengalami lonjakan sektor pariwisata karena didukung akses bandara yang kuat.
“Kalau bandara hidup, maka ekonomi akan bergerak. Pariwisata meningkat, investasi masuk, UMKM tumbuh. Ini efek berantai yang harus kita kejar,” katanya.
Sebagai catatan, Kertajati mulai kembali menggeliat sejak 2023 dengan pengalihan sebagian penerbangan dari Soekarno-Hatta. Namun, tingkat keterisian penumpang (load factor) masih menjadi tantangan, seiring belum optimalnya rute domestik maupun internasional.
Pemerintah pusat dan daerah saat ini terus mendorong optimalisasi bandara melalui insentif penerbangan, pembukaan rute baru, serta penguatan konektivitas darat.
Mantan Ketua DPD PKS Karawang ini menegaskan, kunci keberhasilan Kertajati terletak pada keberanian mengambil langkah inovatif dan membangun kolaborasi lintas sektor.
“Jangan biarkan Kertajati menjadi simbol tanpa fungsi. Dengan konsep bisnis yang tepat dan dukungan akses yang kuat, ini bisa menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat,” pungkasnya. (red).





