KARAWANG-Asosiasi HRD&GA Karawang (ASOKA) bersama Metranet dan KADIN Karawang sukses menyelenggarakan forum diskusi bertajuk “Evolusi Cara Kerja: Sinergi Human & AI dalam Navigasi Perubahan Digital” sebagai wadah berbagi wawasan mengenai transformasi dunia kerja di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Jumat (8/7/2026) siang di Hotel Resinda.
Kegiatan yang diikuti oleh 65 HR dan HC dari perusahaan manufaktur ini menghadirkan narasumber dari kalangan profesional dan praktisi industri di antaranya Yusuf Ricky Carel yang merupakan Founder of Digital Optima Integra dan Rizki Dwi Saputra yang merupakan product manager PT Metra-Net.
Forum diskusi tersebut diselenggarakn untuk membahas bagaimana kolaborasi antara manusia dan AI mampu mendorong produktivitas, inovasi, serta kesiapan organisasi dalam menghadapi perubahan digital yang semakin dinamis.
Menurut Lula, pemilihan tema sinergi AI dan manusia ini diangkat karena tren industri yang sudah mengarah ke teknologi AI. Melalui acara ini, perusahaan-perusahaan—khususnya sektor manufaktur—diharapkan dapat lebih siap dan memahami bagaimana AI dapat membantu serta mengefisiensikan proses kerja yang kompleks menjadi lebih produktif.
”Mengefisiensikan waktu kerja kita lah, dengan adanya AI itu jadi bisa lebih cepat dan bisa lebih produktif karena bisa meng-efisiensikan waktu,” ujar Lula.
Lula Menambahkan, sebagai bagian dari komitmennya untuk mengkatalisasi transformasi digital, Metranet secara rutin mengadakan kegiatan edukatif serupa dengan topik yang bervariasi, mulai dari data analitik hingga perkembangan teknologi AI terkini.
“Hal ini dilakukan tidak hanya untuk mengenalkan produk perusahaan, tetapi juga untuk memahami secara langsung kebutuhan solusi teknologi yang tepat bagi para pelanggan, “tandasnya.
Tempat yang sama, pengurus ASOKA, Hendro Pradipto, menjelaskan, mengenai integrasi teknologi di lingkungan kerja modern. Banyak pihak kerap berasumsi bahwa kehadiran AI dapat menyelesaikan seluruh persoalan secara instan.
“Padahal, fondasi utama yang harus dibenarkan terlebih dahulu adalah kesiapan pola pikir (mindset) serta tingkat literasi pengguna teknologi itu sendiri, ” Ungkap Hendro, Jumat (7/8/2026).
Ia mencontohkan kemajuan AI yang digunakan untuk kegiatan negative yakni menipu melalui saluran telepon suara atau video call.
“(Bagi orang awam) ketika mendapat telepon dikira itu betulan orang yang telepon tapi sebenarnya itu AI. Jadi melalui forum diskusi ini kami ingin memberikan wawasan dan pemahaman bahwa AI itu alat yang bisa orang makin produktif,” ujarnya.
Hendro melanjutkan, sebagai ilustrasi, pengolahan data sederhana berskala kecil memang dapat diselesaikan dengan cepat melalui perangkat lunak biasa atau manual. Namun, ketika berhadapan dengan data ribuan tenaga kerja atau volume pekerjaan yang kompleks, AI hadir untuk meringankan beban operasional tersebut. Kendati demikian, intervensi manusia tetap dibutuhkan untuk memberikan arahan data serta memproses hasil akhirnya.
Hendro menegaskan, dalam menghadapi lanskap dunia kerja yang bertransformasi cepat, sumber daya manusia (SDM) dituntut untuk membekali diri dengan pilar kompetensi yang matang, yang meliputi mind set (pola pikir yang adaptif), yang kedua itu skill set (sejumlah kompetensi atau keterampilan).
“Kita (perusahaan) membutuhkan orang-orang yang melek teknologi, sehingga dia tahu persis mana yang dikerjakan dengan AI dan mana yang dikerjakan dengan manual,” ucapnya.
Hendro mengingatkan SDM yang berjibaku dengan AI harus miliki critical thinking atau berpikir kritis. Bila tidak berpikir kritis dikhawatirkan selalu mengikuti produk AI karena apa kata AI belum tentu benar.
Risiko AI
Hendro juga mengingatkan adanya sejumlah risiko dari teknologi AI. Di antaranya bahaya ‘halusinasi.
“Halu tuh begini, kita minta AI kerjakan suatu kerjaan dan hasilnya kita anggap selesai (benar), tapi kalaa kita lebih kritis ada kasus data yang dihasilkan AI mengandung kekeliruan atau ada data yang salah. Kalau kita tidak kritis maka AI jadi problem,” ungkapnya.
Menurut Hendro, transformasi digital ini turut mengubah peta persaingan bisnis global, termasuk di sentra-sentra industri seperti kawasan manufaktur Karawang.
Persaingan pasar kini tidak lagi sekadar bertumpu pada aspek harga komoditas semata, melainkan pada kecepatan dan kualitas layanan (service). Begitu perusahaan bisa mendeliver produk dengan lebih cepat, maka orang akan lebih percaya.
“Nah bagaimana bisa deliver dengan lebih cepat? Maka salah satu solusinya menggunakan AI. Dengan memadukan efisiensi teknologi (AI) dan ketajaman analisis berpikir kritis dari manusia, sektor industri nasional diharapkan mampu bergerak lebih gesit, adaptif dan berdaya saing tinggi di kancah global,” tutupnya.
Ketua KADIN Karawang, H. Rafiudin, sangat mengapresiasi ASOKA yang telah sukses menyelenggarakan forum diskusi interakfi atau seminar yang memberikan wawasan kepada para peserta soal tren teknologi AI yang bisa mendukung produktivitas kerja.
“Tranformasi teknologi digital manufaktur tentunya sangat membantu setiap industri dalam pengambilan keputusan sistem yang cepat dan tepat serta berujung pada sistem kerja yang lebih efisien. Karawang sebagai kota industri, tidak hanya fokus pada produksi, tapi menjadi pusat inovasi dan transformasi teknologi. Dan harapan kedepannya karawang menjadi role model kawasan industri berbasis AI. InshaAllah kedepannya Karawang semakin maju.(red).





