KARAWANG-Progres proyek pembangunan Jetty Muara Sedari di Kecamatan Cibuaya yang dikerjakan CV Cakra Buana Utama dengan nilai kontrak Rp2,4 miliar bersumber PAD Karawang diduga berjalan lamban.
Padahal, berdasarkan papan informasi, proyek sepanjang 160 meter dengan tinggi konstruksi 3,5 meter itu hanya memiliki masa pelaksanaan 85 hari kalender.
Arnan, warga setempat yang kerap memantau aktivitas pekerjaan, menyampaikan bahwa perkembangan proyek di lapangan masih jauh dari harapan.
Menurutnya, ketinggian konstruksi baru mencapai sekitar satu meter lebih, sementara panjang bangunan yang dikerjakan baru sekitar separuh dari total rencana.
“Material batu belahnya lambat. Kadang sehari tidak datang, bahkan pernah dua hari kosong. Biasanya hanya tiga sampai lima truk saja. Kalau batu datang lancar, pekerjaan bisa terus jalan. Selesai atau tidaknya di Desember tergantung kiriman batu. Pekerja lapangannya asli sini, namanya Asden, panggilannya Daeng,” ujarnya kepada delik.co.id, Senin (24/11/2025).
Untuk memastikan informasi lapangan, jurnalis delik.co.id mendatangi kediaman Asden alias Daeng, yang disebut sebagai pekerja lapangan proyek tersebut. Ia membenarkan bahwa progres pekerjaan masih sebatas pemasangan bambu dan batu belah sebagai struktur dasar.
“Bambu itu untuk membantu dasar ketinggian dan lebar. Memang di RAB tidak ada metodenya, hanya tercantum rucuk, tapi tetap bambu di RAB ada cuma dipakai untuk membuat rap,” jelasnya.
Daeng menyampaikan, pemasangan rap baru mencapai sekitar 10 meter. Adapun progres ketinggian bangunan baru sekitar 1,5 meter dari total rencana 3,5 meter. Ia juga mengatakan proyek mulai dikerjakan pada 13 Oktober, namun kontrak baru berjalan efektif sekitar 25 Oktober 2025.
Menurutnya, pihak dinas sempat menanyakan estimasi penyelesaian proyek. Namun ia menilai sulit memberikan kepastian karena pekerjaan jetty berada di atas air, sehingga sangat bergantung pada kondisi lokasi dan kelancaran pasokan material.
“Proyek ini hanya dua item yaitu bambu dan batu belah. Bambu sudah terpenuhi meski belum masuk kontrak. Tapi yang paling penting itu batu belah. Kalau kiriman lancar, pekerjaan juga cepat. Upah saya sebagai pemborong tergantung pekerjaan yang berjalan,” ujarnya.
Ia juga menyebut, Andin selaku pihak kontraktor sebelumnya menawarkan sistem pembayaran persentase 15–17 persen, namun ia menolak dan memilih pembayaran berdasarkan item pekerjaan sesuai gambar.
Hingga kini, pekerjaan berjalan sekitar 25 hari untuk tiap item. Pada hari senin sekarang juga, material batu belah kembali datang tiga truk. Namun Daeng menegaskan bahwa untuk mempercepat progres dibutuhkan minimal 13 truk per hari. Jika hanya dua sampai tiga truk per hari, penyelesaian proyek dipastikan akan lamban.
“Sampai sekarang sudah habis kurang lebih 140 mobil batu belah,” ungkapnya.
Ia memperkirakan biaya pekerjaan di luar material batu belah mencapai sekitar Rp700 juta, namun angka tersebut masih bergantung pada kebutuhan item di lapangan. Sementara harga batu belah disebut berkisar antara Rp22 juta hingga Rp24 juta per dam truk.
Sebelumnya, Pengamat Kebijakan Asep Agustian Alias Askun sempat mengkritisi proyek Jetty Muara Sedari yang dinilai mustahil selesai pada akhir Desember 2025. Ia juga mempertanyakan latar belakang pelaksana proyek jetty muara sedari yakni CV Cakra Buana Utama.
“Itu CV darimana datangnya ? Pilihan siapa itu ? Penentu (Menang) nya siapa ? Apakah sudah dipikirkan analisanya, akademisnya yang secara teknis akan bisa diselesaikan, lalu mau bagaimana nasibnya proyek,” tegas Askun.
Ia juga menyindir selesainya proyek tersebut sesuai jadwal seakan ibarat Sangkuriang yang membuat Tangkuban Perahu dalam waktu semalam.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun Kabid SDA Dinas PUPR Karawang belum dapat temui ataupun dihubungi terkait lambannya progres pekerjaan serta kendala suplai material yang terjadi di lapangan. (man/red).





