Momentum Hari Fitri : Saatnya Kembali ke Alam, Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat

Anggota DPRD Jabar dari Fraksi PKS H. Budiwanto, S.Si., M.M.

KARAWANG-Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H tidak hanya dimaknai sebagai ajang saling memaafkan dan kembali ke fitrah secara spiritual, tetapi juga sebagai titik awal untuk kembali menyatu dengan alam dan membangun kemandirian ekonomi berbasis pangan.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PKS, H. Budiwanto, S.Si. M.M., yang mengajak masyarakat untuk menjadikan Idulfitri sebagai langkah awal membangun ketahanan pangan dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kondisi geopolitik global yang tidak menentu saat ini berpotensi memicu krisis energi, termasuk kenaikan harga minyak bumi. Dampaknya akan merambat luas ke berbagai sektor, termasuk melonjaknya harga bahan pangan yang pada akhirnya memberatkan masyarakat.

“Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, kita harus bijak menyikapinya. Salah satu langkah nyata adalah kembali ke alam—mulai menanam, beternak, dan memelihara ikan sebagai bentuk kemandirian pangan,” ujarnya.

Legislator dari Daerah Pemilihan Jabar X (Karawang-Purwakarta) ini menegaskan bahwa sektor pertanian, peternakan, dan perikanan memiliki peran strategis sebagai penyangga utama tatanan ekonomi nasional. Ketika sektor lain terdampak krisis, agro bisnis justru dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Lebih lanjut, H. Budiwanto mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang ada, sekecil apapun, agar produktif dan bernilai ekonomi. Menanam sayuran, memelihara ayam, hingga budidaya ikan skala rumah tangga dinilai mampu menjadi langkah konkret dalam menghadapi potensi krisis pangan.

“Ini bukan hanya soal bertahan, tapi bagaimana kita bangkit. Idul Fitri harus menjadi momentum perubahan, dari konsumtif menjadi produktif, dari ketergantungan menjadi kemandirian,” tambahnya..

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung gerakan ini melalui program-program yang terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit, pelatihan, hingga akses pasar bagi hasil pertanian masyarakat.

Dengan semangat kembali ke fitrah, masyarakat diharapkan tidak hanya memperbaiki hubungan sosial dan spiritual, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi keluarga melalui sektor agro bisnis yang berkelanjutan.

“Kalau kita mulai dari sekarang, insyaAllah kita tidak hanya siap menghadapi krisis, tetapi juga mampu menjadikan pertanian sebagai kekuatan ekonomi bangsa,” pungkasnya. (red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *