BANDUNG-Provinsi Jawa Barat memiliki semua prasyarat untuk menjadi lumbung pangan nasional, luas lahan pertanian lebih dari 1,6 juta hektare, sekitar 900 ribu hektare sawah, kekuatan hortikultura, peternakan, serta garis pantai lebih dari 800 kilometer yang menopang sektor perikanan dan garam.
Namun, dalam pembahasan Pansus LKPJ Gubernur 2025, DPRD Jawa Barat menilai potensi besar tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kekuatan produksi yang mandiri.
Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat, H. Budiwanto, S.Si., M.M., menegaskan masih adanya kesenjangan antara potensi dan realisasi di lapangan.
“Potensi Jawa Barat sangat besar, tapi belum terintegrasi. Dalam pembahasan LKPJ, kami melihat produksi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan industri dan konsumsi,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Salah satu contoh mencolok terjadi pada industri kakao di Kabupaten Bandung yang mampu menyerap hingga 170 ribu ton per tahun, namun sekitar 70 persen bahan bakunya masih impor, sementara pasokan dalam negeri didominasi dari luar Jawa Barat.
Kondisi serupa terjadi pada garam industri. Jawa Barat memiliki potensi garam rakyat, namun belum mampu memenuhi kebutuhan industri karena faktor kualitas.
Secara teknis, standar garam industri mensyaratkan kadar NaCl minimal ±97 persen, sementara garam rakyat umumnya masih di bawah standar tersebut karena tingginya kandungan pengotor seperti magnesium dan kalsium.
“Jadi persoalannya bukan hanya produksi, tapi kualitas. Ini yang membuat industri masih bergantung dari luar daerah,” tegasnya.
Di sektor lain, kebutuhan jagung untuk pakan ternak serta daging dan telur juga masih banyak dipasok dari luar provinsi, menunjukkan rantai pasok pangan Jawa Barat belum kuat.
Menurut H. Budiwanto, persoalan utama terletak pada lemahnya hilirisasi dan integrasi sektor pangan.
“Kita masih kuat di potensi, tapi lemah di hilirisasi. Akibatnya nilai tambah tidak dinikmati maksimal oleh daerah,” katanya.
DPRD mendorong agar ke depan kebijakan Pemprov Jawa Barat lebih fokus pada peningkatan produktivitas, kualitas komoditas, serta penguatan industri pengolahan berbasis local. (red).




