Rehabilitasi Atap SDN Kemiri IV Disorot, Genteng Lama Tak Dibongkar Total, Kualitas Tambal Sulam Dipertanyakan

Proyek Rehabilitasi Tambal Sulam Atap SDN Kemiri IV, Genteng Tak Dibongkar Menyeluruh Dikhawatirkan Tak Maksimal

KARAWANG– Proyek rehabilitasi atap SDN Kemiri IV, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, kembali menjadi sorotan. Pasalnya, pekerjaan rehabilitasi tersebut diduga tidak dilakukan secara menyeluruh setelah ditemukan indikasi genteng lama tidak dibongkar total.

Pembongkaran genteng yang tidak dilakukan secara menyeluruh dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas hasil pekerjaan tambal sulam.

Bacaan Lainnya

Proyek yang bersumber dari APBD Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2026 tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp134.592.000, dikerjakan oleh CV HKS Jaya Abadi dengan masa pelaksanaan mulai 27 Agustus hingga 24 November 2026.

Sebelumnya, proyek ini juga menjadi perhatian setelah aktivitas pekerjaan sempat mandek hingga terancam molor serta muncul dugaan ketidaksesuaian pelaksanaan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Kini, metode perbaikan atap dengan sistem tambal sulam pada bagian kayu kaso dan reng turut dipertanyakan. Pasalnya, genteng yang tidak dibongkar secara menyeluruh dikhawatirkan membuat bagian konstruksi kayu yang sudah lapuk tidak terdeteksi dan luput dari perbaikan.

Kondisi tersebut berpotensi menyisakan kerusakan pada konstruksi atap apabila pemeriksaan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Menanggapi hal itu, Kabid Sarana dan Prasarana (Sarpas) Disdikbud Kabupaten Karawang, Dede Pram, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa (3/11/2026), menjelaskan bahwa pekerjaan rehabilitasi atap, termasuk pemasangan rangka, telah diakomodasi dalam RAB adendum.

Menurutnya, pekerja sempat diliburkan karena menunggu proses pembelian material dan akan ditargetkan selesai terpasang pada minggu untuk pekerjaan atap.

Ia juga menyampaikan bahwa untuk area kerja tersebut sebanyak empat lokal kelas dalam posisi sudah tidak digunakan oleh pihak pihak sekolah baik guru maupun siswa untuk mengantisipasi resiko kecelakaan kerja penyedia akan pasang safety line untuk untuk mengamankan area kerja.

“Untuk lebih jelasnya, langsung hubungi pemborongnya,” ujar Dede, menyampaikan informasi dari pengawas proyek.

Namun, berdasarkan hasil pengecekan kembali jurnalis delik.co.id di lokasi Rabu (4/11/2026), aktivitas pekerjaan masih belum terlihat. Bahkan, garis pengaman (safety line) yang sebelumnya disebut akan dipasang juga belum tampak.

Di sisi lain, masih terlihat guru dan siswa menggunakan ruang kelas yang disebut sebagai area rehabilitasi untuk kegiatan pelatihan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait penerapan pengamanan area kerja sebagaimana disampaikan pihak Disdikbud.

Salah seorang guru saat dimintai tanggapan mengenai perkembangan proyek tersebut mengatakan bahwa dirinya mendapat informasi pekerjaan akan kembali dimulai keesokan harinya.

“Menurut informasi, katanya besok pekerjaan proyek mau dimulai lagi. Harapan saya sebagai guru, pekerjaan bisa dipercepat,” ujarnya.

Terpisah, Zull yang disebut sebagai pihak pelaksana atau pemborong proyek, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan alias bungkam seribu bahasa saat dikonfirmasi mengenai perkembangan pekerjaan maupun metode perbaikan atap tersebut.

Masyarakat berharap pihak pelaksana bersama instansi terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap konstruksi atap, khususnya bagian kayu kaso dan reng, agar seluruh pekerjaan sesuai spesifikasi teknis serta RAB yang telah ditetapkan.

Pengawasan ketat dinilai penting agar anggaran pemerintah sebesar Rp134,59 juta tersebut benar-benar menghasilkan bangunan sekolah yang aman, berkualitas, dan layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. (man/red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *