KARAWANG-Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di Dusun Jamantri, RT 09 RW 03, Desa Mekarjaya, Kecamatan Rawamerta, kembali mencuat dan jadi sorotan.
Proyek yang diharapkan dapat meningkatkan infrastruktur irigasi justru menimbulkan kontroversi, terutama karena kualitas pengerjaan yang dianggap asal-asalan dan dugaan kurangnya transparansi dalam pengelolaan anggaran karena disinyalir ada cawe-cawe anggaran yang diduga dilakukan oleh Ketua P3A Mekar Abadi Kusnadi dan Kades Mekarjaya.
Ketika dugaan cawe-cawe anggaran itu dikonfrontir ke Kusnadi, ia membantah mentah-mentah tuduhan soal cawe-cawe anggaran. Lewat sambungan telepon pada Kamis (12/12/2024) Kusnadi menjelaskan bahwa termin pertama dana sebesar Rp126 juta telah digunakan untuk pembelian material bersama Ramil selaku Ketua P3A Tani Mekar. Kusnadi bahkan menantang agar klarifikasi dilakukan secara bersama-sama di kantor desa.
“Kalau tidak percaya, besok tanyakan langsung ke Pak Kades. Saya juga tahu pembicaraan Ramil direkam, tapi itu tidak benar,” ujarnya.
Namun sangat disayangkan ucapan Kusnadi yang mengaku kesal terhadap sejumlah pertanyaan dari jurnalis terkait proyek tersebut, seakan-akan tugas jurnalis berupaya mencari kesalahan. Padahal tugas jurnalis mencari dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.
Sebelumnya diberitakan, Ketua P3A Tani Mekar, Ramil, menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan dana proyek tersebut. Ia menyatakan seluruh pengelolaan diserahkan kepada Kusnadi.
“Benar, saya Ketua P3A Tani Mekar, tetapi saya tidak mengelola dana. Semua saya serahkan kepada Kusnadi. Saya takut jika ada masalah,” kata Ramil.
Ramil juga mengungkapkan adanya pembicaraan Kusnadi di kantor desa tentang permintaan kasbon dari kepala desa, meskipun nominalnya tidak diketahui pasti.
“Pak Kades pernah bilang mau kasbon, tapi saya tidak tahu berapa nominalnya,” katanya.
Di sisi lain, kualitas pengerjaan proyek menjadi sorotan tajam. Pondasi batu kali hanya ditancapkan pada area berlumpur tanpa penggalian memadai. Beberapa bagian struktur tampak miring, pondasi mulai amblas, dan nat batu kali terlihat tidak rapi. Kondisi ini memunculkan kritik dari masyarakat yang merasa proyek tersebut dikerjakan asal jadi.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Mekarjaya belum memberikan pernyataan resmi terkait polemik ini. Publik menanti klarifikasi dari pihak-pihak terkait, terutama soal transparansi anggaran dan perbaikan kualitas pengerjaan proyek.(man/red).





