KARAWANG-Dugaan mark-up anggaran dalam proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S) di Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta, kembali menguat setelah beredarnya video viral di TikTok yang memperlihatkan penggunaan keramik bermerek ikatan. Material tersebut dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Tak lama setelah video itu viral, Tim Pelaksana Swakelola Kelompok Swadaya Masyarakat (TPS-KSM) Mandiri Jaya langsung buru-buru mengganti keramik bermerek ikatan dengan keramik kemasan kardus.
Pergantian mendadak ini memicu kecurigaan publik bahwa benar telah terjadi dugaan ketidaksesuaian material hingga potensi mark-up pada proyek senilai Rp544 juta tersebut.
Amad, yang disebut sebagai Bendahara TPS-KSM Mandiri Jaya, membenarkan adanya penggantian keramik setelah informasi tersebut mencuat.
“Terima kasih infonya. Keramik Ikatan sudah ditukarkan lagi dengan keramik kardusan. Kekurangannya karena motif keramik kardusan habis. Tadinya mau disamakan motifnya, jadi diganti motif lain,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Namun, ketika ditanya apakah keramik bermerek Ikatan ataupun keramik kardusan tercantum dalam RAB, Amad mengaku tidak memahami secara detail.
“Setahu saya tidak ada di RAB keramik Ikatan atau keramik bermerek lain. Yang ada hanya keramik menyesuaikan ukuran dan biaya pemasangan. Saya tidak baca detail. Kalau mau jelas, tanya pendamping saja. Takut salah jawab. Saya fokus ke pekerjaan supaya tidak mengecewakan warga,” katanya.
Amad menegaskan bahwa penggantian material dilakukan berdasarkan arahan pendamping lapangan.
Sementara itu, Koordinator Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Kabupaten Karawang, Harry, membenarkan pihaknya telah menegur KSM Mandiri Jaya setelah menerima laporan dan foto keramik bermerek Ikatan.
“Begitu ada kabar dan foto keramik Ikatan, langsung saya tegur KSM nya. Kalau ada yang pakai keramik Ikatan, harus diganti,” ujarnya.
Saat ditanya apakah penggunaan keramik Ikatan diperbolehkan, Harry menegaskan bahwa setiap kekeliruan harus segera diperbaiki.
“Terima kasih sudah memberikan informasi. Tidak apa-apa diberitakan, supaya jadi pelajaran di Desa Jayakerta. Saya sesuai tupoksi, kalau ada kekeliruan harus ditegur, diperbaiki, atau ditukar,” ucapnya.
Sebelumnya, akun TikTok @nesansanjaya6 mengunggah video yang memperlihatkan tumpukan keramik bermerek Ikatan yang dinilai memiliki kualitas dan harga di bawah standar material yang semestinya digunakan dalam proyek SPALD-S. Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut memunculkan dugaan adanya potensi mark-up anggaran serta ketidaksesuaian material dengan RAB.
Berdasarkan papan informasi proyek, pembangunan SPALD-S skala individu itu ditujukan bagi sedikitnya 25 kepala keluarga penerima manfaat di Desa Jayakerta. Proyek didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Sanitasi Tahun Anggaran 2025 dengan nilai kontrak Rp544.740.000, dan dikerjakan oleh TPS-KSM Mandiri Jaya dalam waktu 150 hari kalender.
Hingga kini, dugaan ketidaksesuaian material dan potensi mark-up masih menjadi sorotan publik, terlebih setelah KSM Mandiri Jaya bergerak cepat mengganti keramik sesaat setelah video viral dan pemberitaan mencuat. (man/red).





