KARAWANG-Polemik pengadaan kelas kontainer kampus Unsika terus bergulir kencang. Sejumlah kalangan tokoh masyarakat dan tokoh publik mengkritik kebijakan rektorat Unsika hamburkan uang Rp6,4 miliar untuk pembelian 80 unit kontainer yang akan dibuat jadi 40 unit kelas kabin (2 kontainer jadi 1 kelas).
Lembaga kajian riset dan sosial kontrol masyarakat Ghazali Center turut menyoroti polemik tersebut. Bahkan Ghazali Center telah mengendus adanya aroma kejanggalan dalam pengadaan kontainer tersebut.
“Adanya informasi pihak Unsika telah gelontorkan dana dari BLU sebesar Rp6,4 miliar untuk pengadaan 40 kelas kabin (2 kontainer jadi 1 kelas kabin), artinya setiap unit kelas kabin seharga Rp160 juta, sementara harga satuan kontainer sangat tinggi dibanding harga pasaran. Hal ini perlu diselidiki lebih lanjut oleh semua pihak,” kata Direktur Ghazali Center, Lili Ghazali, kepada delik.co.id, Selasa (17/12/2024) siang.
“Apakah ada indikasi permainan dengan supliernya itu yang akan kami dalami lebih lanjut,” timpalnya.
Lili mengaskan, bila hasil penelurusan pihaknya Harga container yang sudah dimodif harganya tidak sampai Rp50 juta per unitnya.
“Artinya harga beli kontainer Unsika sebesar Rp80 juta per unitnya sangat tinggi dibanding di pasaran,” tegasnya.
Lili pun memaparkan, kendati pembelian kontainer tersebut melalui e-catalog, bukan berarti bebas adanya dugaan KKN.
“Dari segi audit investigasi sangat bisa terjadi korupsi karena e-catalog hanya tools untuk pengadaan dan jika ada perjanjian dan kontrak ya pasti bisa diatur,” ungkapnya.
Lili pun mempertanyakan, apabila puluhan kontainer itu bagian dari sarana prasana kampus Unsika kah? Bila betul maka itu harus dibiayai dari dana APBN bukan dari dana BLU. Sebaiknya pengeluaran harus disesuaikan dengan peruntukannya, jika tidak sesuai maka itu pelanggaran dan bisa disebut merugikan keuangan negara.
“Adanya sejumlah kejanggalan itu semua, kami berencana akan buat laporan ke pihak APH,” tutupnya. (red).





