KARAWANG-Progres pelaksanaan proyek sabuk pantai atau penahan abrasi di wilayah Muara Pakisjaya, Kecamatan Pakisjaya, dinilai masih terkesan molor. Dari pertengahan September hingga pertengahan November 2025, pekerjaan masih juga baru sebatas pengepokan batu belah dan belum menyentuh tahapan inti.
Untuk memastikan sejauh mana pelaksanaan proyek tersebut, Empud, Perangkat Desa Pakisjaya yang ditugaskan sebagai mitra pengawas, mengungkapkan, aktivitas pekerjaan belakangan ini masih berjalan pengepokan batu belah ke pantai.
“Kemarin masih ada pekerjaan pengepokan batu, tapi sekarang tidak ada yang bekerja. Alat excavator (Beko) sudah ada namun belum mulai beroperasi, kabarnya operator bekonya sakit. Saya juga bingung karena informasi dari kantor anggarannya belum ada yang masuk. Saya juga berharap banget Pak Yana selaku pelaksana lapangan turun langsung ke lokasi,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (15/11/2025).
Saat jurnalis delik.co.id kembali memantau lokasi proyek, kondisi di lapangan masih terlihat belum ada perkembangan berarti. Seorang nelayan setempat, WI, mengaku bahwa hingga kini belum ada sosialisasi terkait batasan lokasi dan detail konstruksi kepada para nelayan.
“Belum ada sosialisasi, bahkan batas-batas lokasinya juga belum tahu. Yang saya dengar hanya lebar 9 meter, lebar atas 2,5 meter dan panjang 86 meter,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan bahwa beberapa pekerja mengeluhkan keterlambatan pembayaran.
“Kemarin excavator cuma mindahin batu belah. Sekarang sejak Kamis sampai hari ini tidak ada yang kerja. Dua hari pekerja juga belum dibayar. Katanya beko sempat kehabisan solar dan operatornya sakit. Harapan saya pekerjaan dipercepat karena sebentar lagi musim ombak pasang,” ujarnya.
WI menegaskan, masyarakat nelayan tidak menolak pembangunan sabuk pantai, tetapi meminta adanya musyawarah desa serta sosialisasi resmi terlebih dahulu.
“Kalau pembangunan sih kami tidak menolak, tapi kalau titiknya lokasi tumpukkan batu belah itu justru takutnya membahayakan nelayan karena yang merasakan masyarakat nelayan.Lebih baik kumpulkan dulu warga nelayan di kantor desa untuk sosialisasi. Kalau titiknya tetap yang sekarang ada tumpukan batu belah di pesisir pantai itu, saya dan nelayan lainnya menolak seratus persen,” tegasnya.
Terpisah, Yana selaku pelaksana lapangan saat dimintai klarifikasi lewat pesan maupun dihubungi telpon WhatsApp terkait perkembangan terkini proyek tersebut kembali tidak memberikan jawaban alias bungkam sejuta bahasa.
Sebelumnya, Kabid SDA DPUPR Karawang, Aries, menyampaikan bahwa proyek sabuk pantai Pakisjaya tetap ditargetkan rampung sesuai jadwal.
“InsyaAllah on progress dan bisa selesai sesuai waktu,” ujarnya singkat.
Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan ini mengusung judul Pengelolaan SDA dan Bangunan Pengaman pada Wilayah Sungai (WIS) dalam Satu Daerah Kabupaten, dengan pekerjaan pembangunan penahan abrasi Muara Pakisjaya.
Proyek ini memiliki nilai kontrak Rp903.480.500, bersumber dari APBD Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2025, dengan masa pelaksanaan 90 hari kalender, dikerjakan oleh CV Mazel Arnawama Indonesia (MAI).
Hingga berita ini diterbitkan, jurnalis delik.co.id masih berupaya mendapatkan klarifikasi dari pihak pelaksana lapangan terkait dugaan lambannya progres proyek sabuk pantai Muara Pakisjaya, serta akan terus melakukan pemantauan untuk memastikan komitmen Kabid SDA DPUPR Karawang mengenai penyelesaian proyek sesuai waktu yang ditentukan. (man/red).





