KARAWANG-Momentum Hari Raya Iduladha 1446 H bukan hanya menjadi momen spiritual umat Islam, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang sangat signifikan.
Perputaran uang dari transaksi hewan kurban dan seluruh ekosistem pendukungnya mampu menyuntik energi segar bagi perekonomian, khususnya sektor peternakan rakyat, jasa logistik, rumah potong hewan, dan pelaku UMKM.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Budiwanto, S.Si., M.M., mengungkapkan, momen Iduladha merupakan salah satu contoh nyata ekonomi kerakyatan yang aktif bergerak dari bawah.
“Idulaadha ini menjadi siklus tahunan yang menggerakkan ekonomi rakyat. Perputaran uangnya besar, dan yang paling diuntungkan adalah peternak lokal serta para pelaku usaha mikro di sektor hilir seperti jagal, pengemasan, hingga distribusi,” ujar Budiwanto, saat dihubungi delik.co.id, Minggu (8/6/2025) malam.
Berdasarkan kajian dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), nilai ekonomi kurban secara nasional pada 2025 diperkirakan mencapai Rp27,1 triliun, sedikit menurun dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran Rp 28,3 triliun. Estimasi ini dihitung dari rata-rata harga dan volume hewan kurban yang mencapai 2,2 juta ekor sapi, kambing, dan domba.
Sementara itu, menurut data CNBC Indonesia, nilai ekonomi kurban pada 2024 sempat menyentuh Rp34,3 triliun, termasuk kontribusi dari jasa pendukung seperti logistik, RPH (rumah potong hewan), serta pengemasan dan distribusi daging.
“Ini adalah pasar tahunan yang sangat besar. Dan yang menarik, hampir seluruh transaksi bersifat langsung antara konsumen dengan pelaku usaha mikro atau peternak, tanpa melalui rantai distribusi panjang,” tambah H. Budiwanto.

Kontribusi Jawa Barat Omzet bisa tembus Capai Rp4 triliun, Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk muslim terbesar turut menyumbang angka yang signifikan. Dengan proyeksi kontribusi 10-15 persen dari total nasional, potensi ekonomi kurban di Jawa Barat diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun hingga Rp4,1 triliun.
Di pasar-pasar ternak besar seperti Jonggol (Bogor), Lembang (Bandung Barat), dan Cikole (Sukabumi), penjualan domba dan sapi mengalami lonjakan sejak akhir Mei. Harga domba ukuran sedang (25–30 kg) mencapai Rp2,5 juta-Rp 3 juta per ekor. Penjualan sapi kurban kategori standar (300–350 kg) berkisar antara Rp18 juta-Rp25 juta per ekor.
“Potensinya luar biasa. Yang perlu kita dorong adalah keberlanjutan. Peternak jangan hanya untung saat Iduladha saja, tetapi bagaimana siklus produksi ternaknya bisa didukung sepanjang tahun,” tegasnya yang juga Ketua PKS Karawang ini.
Sebagai legislator di Komisi II yang membidangi ekonomi dan ketahanan pangan, H. Budiwanto menyampaikan beberapa rekomendasi:
1. Penguatan Akses Permodalan bagi peternak melalui skema kredit murah dan program hibah UMKM sektor ternak.
2. Standarisasi Proses Penyembelihan agar sesuai dengan prinsip syariah dan higienitas, melalui pelatihan jagal bersertifikasi dan fasilitas RPH modern.
3. Digitalisasi Distribusi Daging Kurban untuk menjangkau kelompok masyarakat miskin secara lebih adil dan merata.
4. Insentif untuk Peternak Lokal, berupa subsidi pakan atau bibit unggul demi menekan ketergantungan terhadap pasokan luar daerah.
Menurutnya, selain dampak ekonomi, distribusi daging kurban juga membantu peningkatan gizi masyarakat berpenghasilan rendah. Selama masa tasyrik (11-13 Dzukhijjah), jutaan keluarga yang jarang mengonsumsi daging bisa menikmatinya secara gratis, berkat sistem gotong-royong yang mengakar dalam tradisi kurban.
“Momentum ini juga menyentuh aspek sosial dan ketahanan pangan rumah tangga. Maka kami mendorong agar data penerima manfaat kurban lebih terstruktur, sehingga tepat sasaran,” tutupnya. (red).





