KARAWANG-DPRD Karawang mendesak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk segera menangani masalah tikus yang mengganggu di Desa Kutamakmur, Kecamatan Tirtajaya. Masalah ini dapat berdampak negatif pada kesehatan masyarakat dan hasil pertanian.
“OPD terkait segera melakukan langkah-langkah konkret, seperti penyuluhan kepada warga tentang pencegahan dan penanganan, serta pelaksanaan program pengendalian hama secara terkoordinasi. Tindakan cepat dianggap penting untuk mencegah penyebaran penyakit dan memastikan keberlanjutan produksi pertanian di daerah tersebut,” kata Anggota DPRD Karawang, Taman, kemarin, menanggapi viralnya video koloni tikus yang masuk ke pemukiman warga Dusun Cibatu, Desa Kutamakmur, Kecamatan Tirtajaya, beberapa waktu lalu.
Anggota Dewan Dapil Tiga tersebut mengatakan, tikus merupakan salah satu hama bagi tanaman padi. Maka dari itu, populasinya di area sawah harus dapat dikendalikan agar tidak merugikan petani.
Menurutnya, fenomena ratusan tikus yang masuk ke area pemukiman disebabkan oleh cuaca, karena intensitas hujan turun dua hari ini dimana air hujan masuk dan membajiri sarang tikus, sehingga mereka keluar dari sawah dan menuju ke pemukiman warga.
“Yang di khawatirkan dari kondisi ini adalah populasi tikus banyak yg ini dapat merusak pertanian pertanian tanaman Padi. Melihat peristiwa ratusan tikus yang sampai ke wilayah pemukiman di Desa Kutamakmur Kecamatan Tirtajaya, artinya populasi hama tikus di wilayah tersebut tidak terkendali,” ujarnya.
Ia meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang melalui OPD terkait agar cepat tanggap menangani permasalahan tersebut. Ia berharap Pemda melakukan penanganan cepat jangka pendek dan solusi jangka panjang untuk mengendalikan populasi hama tikus sawah.
“Untuk keberlangsungan produksi padi, Pemda harus cepat tanggap melakukan penanganan. Solusi jangka panjang juga harus dilakukan, agar kedepan populasi tikus sawah dapat dikendalikan, sehingga tidak merugikan petani,” ucapnya.
Masih kata Taman, tidak terkendalinya populasi tikus sawah kemungkinan diakibatkan oleh minimnya pemangsa alami tikus di area sawah seperti burung hantu dan ular.
“Menjaga keberadaan pemangsa alami,. Memanfaatkan predator alami tikus, seperti kucing, ular, atau burung hantu. Serta dengan melakukan gropyokan, yaitu memburu tikus secara beramai-ramai setelah membongkar sarangnya,” pungkasnya.(red)





