KARAWANG-Persoalan distribusi air yang berdampak pada kekeringan ratusan hektare areal persawahan di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, mendapat respons dari Pemerintah Desa Medangasem.
Pemdes Medangasem bersama Pemdes Ciptamarga, UPTD Pertanian Kecamatan Jayakerta, serta para petani menggelar musyawarah untuk mencari solusi terkait saluran air yang menjadi salah satu jalur pengairan menuju areal persawahan di wilayah Ciptamarga.
Pasalnya, sebagian lahan pertanian di Desa Ciptamarga dilaporkan mulai mengalami kekurangan pasokan air. Sementara itu, di sejumlah titik wilayah Desa Medangasem justru terjadi luapan air.
Kondisi tersebut mendorong kedua pemerintah desa melakukan koordinasi agar distribusi air dapat diatur dan dimanfaatkan secara lebih optimal untuk kebutuhan pertanian.
Musyawarah digelar di Aula Kantor Desa Medangasem dan dihadiri Kepala Desa Medangasem Alex Abdul Hanan, Kepala Desa Ciptamarga Muslihat, Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Jayakerta Trisna Gunawan, serta sejumlah petani.
Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada upaya membuka dan membersihkan jalur air dari wilayah Medangasem agar alirannya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian di Ciptamarga.
Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Jayakerta, Trisna Gunawan, mengatakan pihaknya memfasilitasi koordinasi kedua desa karena persoalan air di wilayah tersebut saling berkaitan.
“Kita memfasilitasi dua desa, petani dari Ciptamarga yang kekeringan, sementara yang dari Medangasem sukanya kebanjiran. Kita berkumpul dan bermusyawarah bagaimana mencari solusi supaya air yang ada di wilayah Medangasem bisa mengalir ke Ciptamarga,” ujar Trisna, Rabu (16/9/2026).
Menurut Trisna, berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, salah satu kendala aliran air adalah adanya pendangkalan saluran akibat endapan lumpur yang diperkirakan mencapai sekitar 30 sentimeter.
Kondisi tersebut membuat normalisasi saluran diperlukan. Namun, penggunaan alat berat seperti ekskavator atau beko memiliki keterbatasan karena sebagian saluran berada di kawasan permukiman sehingga sulit dijangkau.
“Penyebab utamanya adanya pendangkalan dan endapan sekitar 30 cm, jadi memang harus digorol. Kami sedang memfasilitasi, mudah-mudahan bisa turun beko. Namun beko sifatnya terbatas karena kendalanya saluran berada di wilayah permukiman sehingga tidak bisa masuk,” jelasnya.
Sebagai alternatif, pemerintah desa bersama UPTD Pertanian mendorong keterlibatan masyarakat dan para petani melalui kegiatan gotong royong untuk membersihkan saluran secara manual.
Trisna menilai kerja sama lintas desa diperlukan agar ketersediaan air yang ada dapat didistribusikan secara lebih optimal. Dengan demikian, persoalan luapan air di sejumlah wilayah Medangasem dan kekurangan pasokan air di lahan pertanian Ciptamarga diharapkan dapat ditangani secara bersama-sama.
Sebagai tindak lanjut hasil musyawarah, Kepala Desa Medangasem Alex Abdul Hanan bersama Kepala Desa Ciptamarga Muslihat menyepakati pelaksanaan kerja bakti pada Sabtu, 19 September 2026.
Kerja bakti tersebut akan dilakukan mulai dari pintu air di wilayah Medangasem menuju saluran air yang berada di sekitar area persawahan Ciptamarga.
Pembersihan akan difokuskan pada saluran yang mengalami pendangkalan maupun penyumbatan. Upaya tersebut diharapkan dapat memperlancar kembali aliran air menuju areal persawahan Ciptamarga.
Sebelumnya, kondisi saluran dan pintu air tersebut telah dikeluhkan sejumlah petani Ciptamarga. Mereka mempertanyakan kondisi jalur pengairan yang menjadi salah satu sumber pasokan air bagi lahan pertanian, terlebih saat sebagian areal persawahan mulai mengalami kekurangan air.
Melalui koordinasi antara dua pemerintah desa, UPTD Pertanian, dan para petani, persoalan tersebut kini mulai ditindaklanjuti dengan rencana pembersihan saluran secara bersama-sama,”. pungkasnya. (man/red).





