KARAWANG-Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ditambah dengan fenomena air pasang laut (rob) menyebabkan hampir 2.000 hektare lahan sawah di Kabupaten Karawang terendam banjir. Kondisi tersebut membuat para petani khawatir akan potensi gagal panen.
Berdasarkan informasi sementara yang diterima redaksi delik.co.id per tanggal 19 Januari 2026 dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang, sawah yang terdampak banjir tersebar di tujuh kecamatan,di antaranya :
1. Kecamatan Cibuaya (empat desa) seluas 1.271 ha
2. Kecamatan Pedes (dua desa) seluas 65 ha
3. Kecamatan Tirtajaya (satu desa) seluas 203 ha
4. Kecamatan Pakisjaya (lima desa) seluas 253 ha
5. Kecamatan Telukjambe Timur (dua desa) seluas 7 ha
6. Kecamatan Telukjambe Barat (empat desa) seluas 44 ha
7. Kecamatan Cilamaya Wetan (dua desa) 105 ha
Seorang petani, Saepul Bahri, mengungkapkan, tanaman padi yang terendam air berisiko mengalami kerusakan, terutama padi yang sudah memasuki fase pertumbuhan penting. Jika genangan berlangsung lama, hasil panen dipastikan akan menurun dan harga anjlok.
“Kondisi seperti ini harga dibawah HPP, ditawar bandar (tengkulak) di bawah Rp6.000. BULOG belum turun serap hasil panen petani. Sementara hasil panen jauh menurun, luas sawah 1,6 ha yang biasanya dapat 1,2-1,3 ton sekarang cuma dapat 4 ton,” ucapnya kepada delik.co.id, Senin (19/1/2026).
Petani semakin menjerit ketika biaya operasional mengangkut hasil panen makin membengkak.
“Ojek sawah yang angkut gabah sekarang aja per karungnya dipatok 25-35 ribu, karena memang medan jalan galangan sawahnya sudah sangat sulit,” keluhnya.
Disinggung soal asusansi tani, Saepul mengaku sejauh ini belum ada keterangan dari dinas terkait perihal sawah rusak diklaim asurani.
“Belum ada, tapi dulu mah pernah dengar kalau Pemda kucurkan anggaran Rp500 juta untuk cover ribuan ha sawah rusak,” ungkapnya.
Terpisah, Kabid Sarana DPKPP Kabupaten Karawang, Mahmud, mengatakan, langkah pertama pihaknya dalam menangani sawah yang terendam banjir, menyampaikan laporan ke pimpinan serta berkoordinasi dengan Bidang Prasarana Pertanian, para UPTD Pertanian Kecamatan dan Petugas POPT yang terdampak banjir.
“Agar poktan-poktan yang terdaftar pada Asuransi Usaha Tani (Program Dinas) untuk disinkronkan datanya dengan Bidang Prasarana (Ibu lLlis). Apabila poktan-poktan yang baru tanam kita usulkan untuk fasilitasi benih padi,” ujarnya.
Sementara itu Kabid Prasarana DPKPP Karawang Lilis menjelaskan, pihaknya sedang mendata sawah yang berdampak banjir, apakah termasuk kelompo ktani yg terdaftar di AUTP atau bukan. “Kalau memang terdaftar (AUTP), kami langsung verifikasi dengan koordinator POPT agar segera kita usulkan klaim asuransinya, data sementara yang masuk AUTP sekitar 271, 2 ha, akan bisa bertambah lagi,” terangnya.
Ketika disinggung berapa jumlah nominal per ha yang diterima petani bila terdaftar AUTP, Lilis belum bisa memastikan karena yang menilai besaran nominalnya dari JASINDO.
“Nanti yang menilai dari JASINDO, biasanya penggantiannya Rp6 juta per ha,” ungkapnya.
Lilis juga belum bisa memastikan kapan pencairan AUTP diterima para petani.
“Belum bisa dipastikan,karena pengajuan klaim saja belum, karena kita tunggu surut atau nanti kita koordinasi dengan JASINDO, misal lahan terendam banjir di atas seminggu, itu pasti sudah rusak, jadi kita koordinasi dengan JASINDO agar sudah bisa diajukan klaim, walaupun lahan tidak surut,” pungkasnya.
Bila tidak ada penanganan lebih lanjut dan intens, banjir yang merendam hampir 2.000 hektare sawah ini dikhawatirkan akan berdampak pada produksi pertanian Karawang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. (red).





