KARAWANG-Viralnya komentar dari oknum HRD PT FCC Indonesia yang diduga menyebut warga Karawang tidak baik dalam proses seleksi rekrutmen yang disertai ucapan ke arah rasisme dinilai dapat melukai hati dan mencederai nama baik sesama para praktisi HRD lain yang berkinerja baik. Imbasnya, ucapan tersebut memantik gejolak di masyarakat Karawang.
“Ucapan tersebut memicu sentimen negatif terhadap warga Karawang dan memperburuk citra komunitas HRD,” kata Ketua Umum Nasional HR Institute (NHRI) Arif Dianto ketika dimintai tanggapannya terkait polemik tersebut, Kamis (24/7/2025).
Menurutnya, memprioritaskan warga lokal Karawang dalam proses rekrutmen dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat setempat.
“Sebaiknya perusahaan juga lebih intensif bekerja sama dengan Pemkab Karawang melalui Disnakertrans dan lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah untuk meningkatkan kompetensi warga Karawang melalui pelatihan dan pengembangan SDM berbasis industry,” ucap Arif yang juga Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan SDM dan Vokasi KADIN Karawang.
Namun, lanjut Arif, perlu diingat bahwa kompetensi seseorang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan asal daerah. Proses rekrutmen yang adil dan transparan harus tetap menjadi prioritas sebagaimana harapan Bupati Karawang.
Perusahaan dapat mempertimbangkan beberapa strategi untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat setempat, seperti menawarkan program pemagangan kepada warga Karawang untuk meningkatkan kompetensi dan pengalaman kerja, serta membangun kerjasama dengan lembaga pendidikan di Karawang untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.
“Selain itu, pengembangan komunitas praktisi HRD yang mendukung pertumbuhan dan pengembangan warga Karawang,” ujar Arif..
Dengan demikian, perusahaan dapat menunjukkan komitmennya terhadap masyarakat setempat dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap warga Karawang.
Rumor tentang adanya oknum HRD yang bermain negatif dalam proses rekrutmen di perusahaan-perusahaan di Karawang memang sudah viral kendati masih belum ada bukti konkret yang mendukung klaim tersebut.
“Jika memang ada masalah dalam proses rekrutmen, maka perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan oleh perusahaan dan Disnakertrans,” harapnya.
Mengenai pangkal masalah yang harus dikoreksi, mungkin tidak hanya dunia pendidikan di Karawang yang perlu diperbaiki, tetapi juga sistem rekrutmen dan seleksi di perusahaan-perusahaan.
Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya jumlah pelamar dari Karawang yang lolos seleksi rekrutmen adalah keterampilan dan kompetensi, pendidikan, pengalaman, dan proses rekrutmen.
Ia menambahkan, pelamar dari Karawang mungkin masih kurang memiliki pengalaman kerja yang relevan dengan posisi yang dilamar yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta sistem pendidikan di Karawang juga perlu ditingkatkan untuk mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.
“Proses rekrutmen di perusahaan-perusahaan mungkin perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa seleksi dilakukan secara adil dan transparan. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan mencari solusi yang tepat,” tutupnya. (red).





