KARAWANG– Seorang pengawas di lingkungan Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan (Korwilcambidik) Tirtajaya, Muhamad Yain, menuai kecaman setelah diduga melakukan tindakan verbal yang dianggap melecehkan seorang wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik.
Peristiwa tersebut menjadi pemberitaan di banyak media massa dan menjadi perbincangan di media sosial. Banyak pihak menyayangkan sikap oknum pengawas tersebut yang dinilai tidak menghargai profesi wartawan.
Menanggapi polemik yang berkembang, MuhamadYain akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia mengakui kesalahannya dan menyesali tindakan maupun ucapan yang memicu kontroversi.
Ia mengakui pernyataan tersebut terlontar karena kekhilafan dan tidak bermaksud menyudutkan insan pers.
“Saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh insan pers di Indonesia. Saat itu saya terpeleset omongan dan tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan profesi wartawan,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat(15/5/2026).
Ia menegaskan bahwa dirinya menghormati tugas dan fungsi pers sebagai pilar demokrasi. Ia berharap permintaan maaf yang disampaikannya dapat meredam polemik yang terjadi dan memperbaiki hubungan baik dengan insan pers.
“Saya sangat menghormati kerja-kerja jurnalistik. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya agar lebih berhati-hati dalam berbicara,” ucapnya dengan memohon maaf.
“Kalau rekan-rekan media ingin saya membuat permintaan maaf secara langsung ataupun secara tatap muka, nanti kalau ada waktu saya akan undang rekan-rekan media,” timpalnya.
Sementara itu, sejumlah wartawan berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pejabat publik agar lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan, terutama yang berkaitan dengan profesi wartawan dan kebebasan pers.
Pernyataan Muhamad Yain sebelumnya sempat memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan jurnalis dan organisasi pers dengan melontarkan pernyataan “wartawan butuh duit”.
Banyak pihak menilai ucapan tersebut telah melukai marwah profesi wartawan yang selama ini menjalankan tugas kontrol sosial dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Akibat polemik tersebut, berbagai kritik dan kecaman pun bermunculan di sejumlah platform media sosial maupun pemberitaan media online. Bahkan beberapa organisasi wartawan di Jawa Barat turut menyoroti ucapan yang dianggap tidak pantas disampaikan oleh seorang pejabat di lingkungan pendidikan. (sep/red).





