Pengamat Politik, Gili Argenti.

KARAWANG-PBNU dibawah komando Gus Yahya terlihat semangat untuk menegakan kembali NU sebagai kekuatan civil society independen dan mandiri. Artinya tidak melibatkan diri sebagai partisan politik.

“Nampak PBNU dibawah Gus Yahya ingin menjadikan NU sebagai rumah bersama untuk kepentingan umat dan bangsa, tanpa memosisikan diri lebih kepada salah satu partai politik tertentu. Sikap PBNU dibawah Gus Yahya sepertinya akan konsisten menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik di Tanah Air di Pemilu 2024 nanti, jadi tidak hanya dengan PKB saja sepertinya,” kata pengamat politik, Gili Argenti, kepada delik.co.id, Selasa (17/5/2022).

Menurut kandidat doktor ilmu politik Unpad ini, sikap Independensi PBNU semakin terlihat, ketika Gus Yahya pernah menegur pengurus NU yang melakukan politik praktis mendukung Cak Imin sebagai Capres-Cawapres 2024.

Mungkin bagi publik sikap PBNU ini tidak seperi biasanya. Pasalnya, sejak lama terdapat stigmatisasi relasi keduanya (NU dan PKB) dalam politik seperti dua sisi dari mata uang logam saling terikat, seakan-akan tidak bisa dipisahkan, bahkan sudah menjadi rahasia umum konstituen PKB sebagian besar dari warga Nahdliyin.

“Saya melihat PBNU dibawah Gus Yahya sepertinya memang ingin mengapus stereotipe itu, bahwa NU tidak berafiliansi dengan partai politik tertentu, semakin menegaskan jati diri NU milik semua kalangan. Artinya sikap PBNU ini berlaku sama bagi partai-partai lain, secara organisasi NU jangan digiring-giring masuk ke wilayah politik praktis, tetapi secara personal tentunya NU membebaskan anggotanya memilih atau aktif partai politik manapun,” ujar Dosen Fisip Unsika ini.

Dalam pandangannya, sikap tegas dari PBNU ini dikhawatirkan memengaruhi suara PKB di Pemilu 2024 nanti, karena dengan kondisi seperti ini tentunya banyak orang melihat masyarakat Nahdliyin saat ini telah menjadi pasar terbuka, bisa diperebutkan oleh semua kekuatan politik manapun, tidak tersegmentasi ke satu partai politik tertentu.

“Tetapi saya melihatnyaa tidak kesana, sebenarnya memang suara warga Nahdliyin ada di semua partai politik, kita bisa melihatnya dari klaim selama ini bahwa angka warga Nahdliyin mencapai 40 juta orang, tetapi suara PKB kan tidak mencapai angka segitu, artinya memang suara warga Nahdliyin ada di semua partai politik. Ada atau tidak ada sikap indepedensi dari PBNU, suara warga Nahdliyin ada di semua kekuatan politik di Indonesia. Itulah realitas politik yang terjadi, bahwa polarisasi suara warga Nahdliyin sudah lama terjadi di dalam setiap pemilu di era reformasi,” tutupnya. (red).