KARAWANG-Proyek pembangunan Sabuk Pantai Pakisjaya yang digadang-gadang menjadi benteng utama penahan abrasi dan banjir rob kini tengah dilanda kemelut. Pelaksanaannya dinilai berjalan lamban dan terancam tidak selesai tepat waktu, sementara keberadaan tenaga ahli di lapangan disebut-sebut sumir alias tidak jelas keberadaannya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, progres fisik proyek terlihat belum signifikan jika dibandingkan dengan waktu pelaksanaan yang telah berjalan dan makin mepet akhir tahun 2025. Sejumlah titik pekerjaan tampak belum tersentuh maksimal, sementara aktivitas alat berat terlihat tidak kontinyu.
Terlihat, material batu belah yang telah diturunkan dan ditumpuk di sepanjang pesisir pantai baru terpasang sekitar 40 meter.
Proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp903,48 juta yang dikerjakan oleh CV Mazel Arnawama Indonesia (MAI) tersebut diperkirakan baru mencapai sekitar 30 persen. Lagi-lagi kondisi ini memunculkan kekhawatiran proyek tidak akan rampung tepat waktu.
Saat ditemui di lokasi, Adam, yang mengaku sebagai Direktur CV Mazel Arnawama Indonesia membenarkan adanya sejumlah kendala dalam pelaksanaan pekerjaan. Ia mengaku telah meminta tim lapangan untuk mempercepat pekerjaan agar proyek dapat diselesaikan sebelum tutup tahun.
“Tim lapangan harus bagaimana pun caranya agar pekerjaan ini bisa diselesaikan sebelum akhir tahun 2025,” ujar Adam, Minggu (14/12/2025).
Adam menyebutkan, ketersediaan material saat ini hampir mencapai 50 persen. Sementara itu, untuk pekerjaan fisik di lapangan, pihaknya klaim tengah melakukan percepatan dilapangan.
“Sekarang sedang dikebut. Sebelumnya memang sempat terjadi miskomunikasi di internal perusahaan, sehingga saya turun langsung ke lapangan untuk melihat kendalanya. Faktor cuaca juga cukup berpengaruh, air laut pasang surut, bahkan sempat satu minggu tidak bisa bekerja karena air laut pasang,” dalihnya padahal dalam kontrak kerja dilampirkan surat kesanggupan selesaikan pekerjaan tepat waktu dengan segala tantangan situasi dan cuaca kecuali terjadi force majeure atau kahar.
Terkait target penyelesaian proyek hingga akhir tahun 2025, Adam menyatakan pihaknya akan berupaya maksimal. Ia juga mengakui adanya kekurangan sarana pendukung di awal pelaksanaan proyek.
“Kami kejar sekuat tenaga agar selesai akhir tahun. Kekurangan alat berat akan kami penuhi. Awalnya tidak menggunakan ponton, namun setelah turun langsung ke lapangan ternyata akses memang tidak ada sehingga harus menggunakan ponton,” ungkapnya.
Saat ditanya terkait keberadaan tenaga ahli teknis, Adam menyebut tenaga ahli berasal dari internal perusahaan dan berada di kantor. Menurutnya, tenaga ahli tersebut telah beberapa kali turun ke lokasi proyek.
“Tenaga ahli teknis internal ada di kantor dan sudah tiga sampai empat kali ke lokasi. Dari awal perencanaan sudah mengetahui kondisi dan medan proyek. Untuk pengawas juga sudah ada, bahkan dari pihak dinas sudah memberikan teguran kepada kami selaku pelaksana,” katanya.
Namun, ketika dikonfirmasi kembali melalui pesan WhatsApp terkait bukti kerja tenaga ahli dilapangan termasuk siapa nama tenaga ahli yang dimaksud, Adam tidak memberikan penjelasan lebih lanjut alias bungkam seribu bahasa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, keberadaan tenaga ahli maupun Yana yang disebut sebagai pelaksana lapangan belum pernah terlihat secara langsung di lokasi proyek. Hingga kini, identitas nama tenaga ahli teknis yang disebutkan oleh pihak pelaksana pun belum dijelaskan secara rinci.
Sampai berita ini diturunkan, jurnalis delik.co.id masih terus memantau perkembangan proyek pembangunan sabuk pantai atau penahan abrasi di Muara Pakisjaya, termasuk peran pengawasan dari pihak dinas terkait agar pelaksanaan proyek berjalan sesuai ketentuan serta dapat di pertanggungjawabkan hingga akhir tahun 2025. (man/red).





