Srie Muldrianto.

OPINI-Memanusiakan manusia dapat dimaknai membangun intelektual, emosional dan spiritual melalui pembelajaran agar sampai tujuan.

Tujuan setiap orang atau kelompok dapat berbeda tergantung keyakinan atau ideologi yang dianutnya. Oleh karena itu sejatinya setiap keyakinan tidak begitu saja diterima. Sebuah keyakinan harusnya diraih dengan upaya yang sungguh-sungguh melalui proses berpikir.

Memilih dan menetapkan sebuah tujuan dalam hidup sangatlah penting sebab tujuan inilah yang akan memandu manusia dan memberikan nilai dalam setiap langkah hidupnya. Orang yang memiliki tujuan yang jelas pasti berbeda dengan orang yang tidak memiliki tujuan yang jelas.

Bagi seorang muslim atau orang beragama, tujuan hidupnya adalah menuju Tuhan. Tuhan sebagai sumber (mabda) dan maad (kembalinya manusia pada Tuhan/kebangkitan). Dalam Alquran manusia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah SWT (Inna lillah wa inna ilaihi roojiuun).

Mengenal dan meyakini Tuhan merupakan syarat manusia beragama. Inti dari Agama adalah Tuhan. Jadi ketika kita melakukan ritual keagamaan tapi bukan karena Tuhan tidak dapat dikatakan sedang menjalankan ibadah keagamaan, mungkin saja sedang melakukan kebiasaan atau kebudayaan yang dilakukan secara turun temurun.

Contohnya ibadah salat, secara bahasa salat berasal dari suku kata shod dan lam, memiliki akar kata yang sama dengan shilaturahim artinya menjalin hubungan. Salat juga sesungguhnya membangun relasi kita dengan Allah SWT.

Jadi ketika kita salat, zakat, ibadah haji, atau puasa tapi tidak ikhlas karena Allah mungkin dapat dikatakan tidak sedang beragama. Ketika memasuki bulan puasa tingkat konsumsi masyarakat bukan malah menurun tapi malah mengalami kenaikan padahal saum atau imsyak artinya menahan bukan banyak mengkonsumsi.

Ibadah keagamaan sudah dikapitalisasi sedemikian rupa hingga hilang nilai Ketuhanannya. Lebih jauh lagi aspek-aspek keagamaan kerap dipolitisasi untuk kepentingan golongan tertentu hingga kadang dengan beragama kita tidak saling peduli, tidak saling empati, dan tidak saling membantu tapi saling menyerang, membenci satu sama lain padahal agama lahir agar bumi ini aman, sejahtera, dan bahagia.

Setelah memiliki tujuan/ideologi yang jelas kemudian manusia memulai hidupnya dengan membuat perencanaan, langkah-langkah untuk meraih tujuan hidupnya dengan menggunakan potensi yang dimiliki manusia.
Apa saja potensi yang dimiliki manusia?, Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya?

Salah satu potensi manusia adalah kapasitas spiritual. Keyakinan kepada Tuhan inilah yang biasa kita sebut sebagai spiritual. Spiritual dapat berbeda makna dengan emosional. Manusia memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, mungkin kalau boleh ditambah dengan kecerdasan fisik atau keterampilan (Jenis-jenis kecerdasan sebagaimana yang dibahas Howard Gardner Multiple Intellegent).

Kecerdasan spiritual juga kadang disebut sebagai Know Why, atau dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang mengapa? Atau pengetahuan tentang makna hidup dibalik yang tampak. Misalnya mengapa hidup kita ini menderita atau sulit?

Bagi seorang spiritualis sebab segala sebab itu akan dikembalikan kepada sesuatu yang tidak tampak yaitu kepada Yang Maha Kuasa. Dalam pandangan seorang spiritualis segala sesuatu yang tampak bukan sebab utama tapi ada sebab lain.

Misalnya dalam Islam kita mengenal Allahu Akbar, atau Arrahman-arrahiim, al adl dan lain-lain. Ketika menghadapi kesulitan besar seorang yang beragama meyakini bahwa Allah Maha Besar dan yang lain tidak ada apa-apanya bahkan tidak ada.

Segala sesuatu adalah kasih sayang Allah, Allah hanya menginginkan manusia kuat dan terus menyempurna hingga sampai pada Insan Kamil. Manusia beragama adalah orang yang optimis, penuh cinta kasih pada sesama dan pada seluruh alam semesta.

Seorang yang beragama adalah seorang yang merdeka, merdeka dari berbagai hal termasuk merdeka dari egonya. Seorang merdeka adalah seorang yang hanya rida, tunduk dan patuh pada Allah SWT.

Kata spiritual juga kadang dinisbahkan kepada selain agama sebagaimana yang diungkapkan Frankle dalam buku Man’s Search for Meaning. Frankle mengatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan orang harus dapat membangun sebuah makna dalam setiap peristiwa hidupnya.

Berbeda dengan Sigmund Freud yang mengatakan bahwa untuk bahagia kita harus menghindari penderitaan dan mencari kesenangan. Frankle membantahnya bahwa penderitaan dan kesenangan adalah dua hal yang harus dihadapi manusia dan manusia tidak bisa lari dari kenyataan hidup tersebut.

Yang bisa kita lakukan adalah mencari makna hidup. Keyakinan kepada spiritual atau yang maha kuasa juga dapat kita temui dalam konsep kaum post positivism hanya saja mereka menggambarkan sosok yang kuasa kepada manusia super seperti superman atau manusia penyelamat lainnya.

Spiritual yang dimaksud Frankle berbeda dengan spiritual yang dimaksud oleh agama. Frankle hanya menjelaskan bahwa untuk bahagia manusia harus memiliki harapan, cinta, dan keindahan tapi berbeda dengan agama harapannya tidak terbatas tapi lintas batas baik di dunia maupun di akhirat.

Adanya pembalasan di akhirat merupakan keyakinan agama yang akan memotivasi manusia untuk selalu berbuat baik walaupun tidak dibalas di dunia. Orang Beragama walaupun berkewajiban membela diri, tapi tidak mencari aman dihadapan manusia tapi celaka di hadapan Allah. Mungkin saja ada manusia yang harum di hadapan manusia tapi bau busuk di hadapan Allah, atau mungkin juga harum dihadapan manusia juga harum dihadapan Allah SWT. Semoga kita bisa terus memperbaiki diri agar selamat sampai tujuan. (red).

Penulis : Srie Muldrianto, Dosen dan Aktivis Pendidikan di Puwakarta.