Swasembada Pangan di Karawang Terancam, Petani Desak Pembongkaran Jembatan dan Normalisasi Saluran Air

KARAWANG-Target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah terancam gagal jika akses irigasi bagi petani tidak segera diperbaiki. Buruknya kondisi saluran irigasi akibat tumpukan sampah dan eceng gondok yang menyumbat aliran air menjadi kendala utama bagi petani di Karawang.

Permasalahan ini terjadi di jalur irigasi Kecamatan Jayakerta, meliputi Desa Jayakerta dan Kertajaya, serta di Kecamatan Tirtajaya yang mencakup Desa Bolang, Kutamakmur, dan Srikamulyan.

Bacaan Lainnya

Tersumbatnya saluran air diperparah dengan minimnya tindakan perbaikan dari pemerintah daerah, mengakibatkan petani kesulitan mengairi sawah mereka.

Ahmad sofyan, seorang petani dari Desa Bolang, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ini.

Menurutnya, keluhan soal irigasi sudah lama disampaikan kepada pemerintah, namun hingga kini belum ada realisasi perbaikan yang diharapkan.

“Tiga Desa di Kecamatan Tirtajaya, yaitu Bolang, Kutamakmur, dan Srikamulyan, akan semakin kesulitan mendapatkan air jika ini terus dibiarkan. Padahal, ini menyangkut ketahanan pangan nasional,” ujar sofyan kepada delik.co.id, Rabu (12/3/2025).

Sebagai bentuk upaya, Kepala Desa Bolang, Kutamakmur, dan Srikamulyan mereka telah mengajukan proposal resmi kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Karawang pada 9 november 2024.

Proposal tersebut berisi permohonan pembongkaran jembatan yang menghambat aliran air serta normalisasi saluran irigasi di Dusun Kadongdong, Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta. Namun, hingga kini, permohonan tersebut belum mendapat tanggapan dari pihak berwenang.

Menurut sofyan, kondisi kritis ini sebenarnya telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Pada 9 Januari 2025, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya mengunjungi Desa Bolang, Kecamatan Tirtajaya, untuk meninjau langsung kondisi irigasi sebagai bagian dari program ketahanan pangan yang diusung Presiden RI Prabowo Subianto.

Namun, meski sudah dua bulan berlalu, belum ada langkah nyata dari pemerintah pusat maupun daerah untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut.

Salah satu titik yang menjadi perhatian petani adalah jembatan di Dusun Kadongdong, Desa Jayakerta, yang disebut-sebut sebagai penyebab utama tersumbatnya aliran air.

Sampah rumah tangga dan eceng gondok yang menumpuk di sekitar jembatan memperparah kondisi irigasi, membuat air tidak bisa mengalir dengan lancar ke sawah-sawah petani.

“Kalau dibiarkan terus seperti ini, petani pasti kesulitan. Sawah kami butuh air, dan tanpa perbaikan irigasi, ancaman gagal panen makin nyata,” tutur sofyan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, para petani di desa bolang, kutamakmur dan srikamulyan khawatir akan mengalami gagal cocok tanam padi akibat kekurangan air. Kabupaten Karawang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi nasional. Gangguan pada sistem irigasi tentu akan berdampak besar terhadap produksi beras di Jawa Barat, bahkan nasional.

Masyarakat berharap agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dengan membongkar jembatan yang menjadi titik penumpukan sampah dan eceng gondok serta melakukan normalisasi saluran irigasi utama dari Dusun Kadongdong, Desa Jayakerta, hingga Desa Bolang, Kutamakmur, dan Srikamulyan.

Jika tidak ada tindakan cepat, bukan hanya petani yang dirugikan, tetapi juga ketahanan pangan nasional yang tengah diupayakan pemerintah bisa berada dalam ancaman serius.(man/red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *