Mang Asep Purwa.

OPINI-Sebelum menyampai ide dan opini saya ingin membuat disclaimer sebagai berikut:

Tulisan ini hanya opini, oleh karena itu belum tentu memiliki nilai kebenaran yang tinggi. Adapun saya berani mengungkapkan tulisan ini hanya sebuah sudut pandang terkait dua politisi yang sedang bermasalah dan terkait dengan kesehatan demokrasi khususnya di Purwakarta. Jadi kalau ada yang tidak berkenan maafkan saya.

Argumentasi yang ingin saya sampaikan didasarkan pada beberapa kenyataan dan asumsi sebagai berikut:

1. Saya pernah berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang dekat DM (lebih 10 orang).

2. Saya sendiri pernah berinteraksi, baik langsung maupun tidak langsung dengan DM

3. Saya pun sering menonton Youtube DM

4. Saya hampir tidak memiliki kepentingan langsung dengan DM tapi salut dengan kiprah DM dalam berpolitik.

5. DM lebih dari tiga kali bermasalah dalam urusan pernikahan

6. Sejak mahasiswa DM aktif di HMI dan terdidik dalam organisasi, karakter politisi didikan HMI dan pernah jadi ketua KAHMI Jawa Barat

7. Pernah jadi ketua DPD dan DPW Golkar Jawa-Barat

8. Anaknya jadi ketua DPD Golkar Purwakarta dan isterinya jadi Bupati Purwakarta atas dukungannya

9. Meniti karir politik dari dasar mulai dari anggota DPRD, wakil Bupati,Bupati dua periode, dan anggota DPR RI fraksi Golkar

Adapun asumsinya adalah sebagai berikut:

1. DM adalah politisi yang sungguh-sungguh dalam berpolitik bahkan hampir tidak ada lawan politik yang sepandan di Purwakarta. Penguasa sesungguhnya di Purwakarta karena dia banyak pendukung, memiliki cukup modal uang, berpengalaman, memiliki jaringan yang kuat baik birokrasi maupun politisi, dan aktivis. Baginya kekuasaan adalah segalanya.

2. Beberapa kali saya menghadiri acara dengan DM dan setelah dia berbicara, dengan segera dia meninggalkan acara dan tampaknya dia tidak ingin mendengarkan pembicaraan orang lain. (sombong dan arogan).

3. Masih perlu banyak belajar dalam menerima kritik, banyak kritik yang dilakukan oleh masyarakat dihadapi dengan reaktif dulu kasus di SMA, kasus patung, teguran mahasiswa, dan beberapa kritik lainnya. Di sini dapat dilihat bahwa kedewasaan berpolitiknya belum cukup matang karena salah satu indikator kedewasaan adalah memahami sudut pandang orang lain. (belum dewasa/ matang).

4. Sering memanfaatkan medsos untuk kepentingan politiknya bahkan kadang bertentangan dengan etika misalnya mempermainkan orang tua dan kemudian memberinya hadiah atau uang.

Beberapa analisa terkait isu yang sedang terjadi adalah sebagai berikut:

1. Baginya kekuasaan dan politik adalah segalanya oleh karena itu gugatan cerai Bupati (Anne) dapat dikaitkan dengan kekecewaan Bu Anne atas banyaknya intervensi DM pada Isterinya

2. Atau mungkin saja DM tidak dapat untuk menggunakan kekuasaan isterinya sebagai panggung politiknya untuk kekuasaan yang lebih tinggi, sehingga DM berulah dan membuat kecewa Bu Anne.

4. Gugatan cerai hanya sandiwara (alasan ini cukup lemah) karena walaupun bagaimana kekuasaan Bu Anne merupakan akibat dari kekuasaan DM (hubungan sebab akibat, tidak ada sebab maka akibatpun tidak terjadi). Jadi ini dianggap trik dalam meraih kekuasaan yang lebih tinggi. Kita mungkin masih ingat kasus suling. Tapi bagi beberapa orang sudah tahu bahwa isu keretakan Ambu dan DM sudah terjadi cukup lama.

5. Mungkin saja ada isu perselingkuhan (track record DM dalam urusan asmara).

Dari beberapa pemaparan yang ada saya patut menduga bahwa:

Analisa pertama dan kedua cukup beralasan. Sebagai penduduk Purwakarta saya menduga jika ada isu keretakan Bupati dan DM maka akan berdampak pada kesehatan demokrasi di Purwakarta. Walaupun sebagai pendukung DM, saya kecewa dengan apa yang sedang terjadi mengapa?

Proses pembangunan yang sedang berjalan di Purwakarta sedang mengalami perbaikan akan terganggu khususnya terkait pembangunan bidang persatuan dan kesatuan dan Purwakarta sebagai kota toleransi. Sebagai mana kita ketahui bahwa Purwakarta telah ditetapkan sebagai kota Welas Asih (Compassionate City), ini sudah mulai dijalankan lewat DIKNAS. Menurut saya ini proyek strategis yang perlu diimplementasikan secara berkelanjutan.

DM adalah tokoh muda yang banyak melakukan perubahan dalam berbagai bidang pembangunan terutama budaya Sunda. Warga Purwakarta bangga menjadi warga Purwakarta. Hampir tiap sudut kota memiliki sarana hiburan, daerah Ci lodong menjadi daerah yang religius dengan dibangunnya Tajug Gede.

Jalan-jalan di Purwakarta cukup tersedia dengan baik. Penataan kota , pasar, dan lingkungan jadi rapih dan menyenangkan.  Sekolah-sekolah di Purwakarta memiliki ciri khas dan memiliki daya saing lebih baik. Dan lain sebagainya.

Tapi dalam demokrasi Purwakarta mengalami kemunduran?

1. Tidak ada lawan yang seimbang dalam kontestasi politik di Purwakarta, jadi DM tampak menjadi semena-mena

2. Anak dan isteri jadi alat politik DM dalam mempertahankan dan meraih kekuasaan yang lebih tinggi

3. Jarangnya kritik dapat memandulkan keberanian masyarakat lain untuk berpendapat

4. Sehingga dapat mengurangi nilai Purwakarta dari perspektif demokrasi.

Jika perseteruan Ambu dan DM itu ada maka ini akan menyehatkan demokrasi di Purwakarta. Tapi mungkin akan mundur ke belakang jika nanti yang berkuasa kaum intoleran, Mengapa?

1. DM menghadapi lawan yang seimbang, karena walaupun bagaimana Ambu ini masih berkuasa, dan keluarga mantan Bupati yang pasti memiliki kemampuan dan kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Di samping itu, Ambu pasti tahu seluk beluk DM lebih baik, dibanding lawan politik lainnya.

2. Akan muncul lawan-lawan baru jika betul DM berseberangan dengan Ambu

3. Dalam politik biasanya kita melakukan pembinaan jika masih sama-sama kuat tapi kalau lawannya lemah akan ada “pembinasaan”.

Saran dan Nasihat Buat DM

DM harus belajar lebih dewasa (memahami perspektif orang lain)bahwa tidak semua wanita dapat diperlakukan sebagaimana isteri-isteri beliau sebelumnya. Ingat latar belakang Ambu adalah dari kalangan elit, dia memiliki konstruk berpikir tentang dirinya, manusia lain, maupun lingkungannya. DM tidak bisa memperlakukan semena-mena pada Ambu.

Sikap dan perilaku arogan harus mulai dikurangi dan diolah dengan baik. Jangan mentang mentang banyak pendukung (netizen), punya uang, jabatan, jaringan dan lain-lain , jangankan kamu (DM), Suharto yang kuat saja bisa tumbang. Di era informasi yang cukup cepat berubah dapat cepat berubah juga dukungan suara dan simpati.

Kuatkan kaderisasi di organisasi dan bukan menguatkan gaya kepemimpinan “kumaha aing” (banyak kader yang mumpuni dan mampu memahami arah DM) berikan peluang! Ingat Negara (kabupaten bukan kerajaan) Tugas pemimpin mengajak yang dipimpin pada tujuan dan membangun kader yang berkualitas (bukan membangun keluarga ikut politik).

Saran terakhir bangun hubungan baik dengan Ambu, mengalahlah demi untuk kepentingan yang lebih besar. Jangan terus membangun citra diri dan menjatuhkan Ambu (ingat Ambu adalah Ibu dari anak-anakmu), Purwakarta masih membutuhkan mu dengan cara dan gaya yang lebih beradab dan bermoral. Semoga Rukun dan Kembali akur lagi!

Salam Sayang dari Mang Asep Purwa.