KARAWANG-Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, H. Budiwanto, mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan biologi tanah sebagai fondasi ketahanan pangan daerah.
Hal itu disampaikannya saat berdialog dengan masyarakat dan kelompok tani dalam agenda pertemuan mengenai pertanian dan ketahanan pangan, kemarin.
Menurut H. Budiwanto, selama ini banyak petani terlalu bergantung pada pupuk kimia tanpa diimbangi perbaikan unsur organik dan biologi tanah. Akibatnya, kondisi tanah di sejumlah wilayah pertanian menjadi semakin keras, asam, dan menurun produktivitasnya.
“Tanah itu bukan sekadar media tanam. Di dalam tanah ada kehidupan, ada mikroba, ada unsur hayati yang membantu tanaman menyerap makanan. Kalau tanahnya sakit, tanaman juga tidak akan optimal,” ujar legislator dari Dapil Jabar X (Karawang-Purwakarta).
Mantan Ketua DPD PKS Karawang dua periode ini menjelaskan, kesuburan tanah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pupuk kimia seperti urea atau NPK, tetapi juga oleh keseimbangan biologis tanah.
Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam jangka panjang, kata dia, dapat menurunkan kualitas tanah apabila tidak dibarengi pemberian bahan organik, pengapuran, dan pupuk hayati.
“Bukan berarti pupuk kimia harus ditinggalkan. Tetapi penggunaannya harus seimbang. Kalau terus-terusan tanah dipaksa dengan kimia tanpa perbaikan organik, tanah bisa bantat, pH turun, mikroba tanah berkurang, akhirnya tanaman gampang kena hama dan penyakit,” katanya.
Ia mencontohkan, di beberapa lahan pertanian intensif, tingkat keasaman tanah sudah cukup rendah sehingga penyerapan unsur hara menjadi tidak maksimal.
“Kadang pupuk banyak diberikan, tapi yang benar-benar diserap tanaman hanya sebagian. Ibarat kita tinggal di lumbung pangan, tapi tidak punya alat untuk memasak. Unsur haranya ada, tapi tanaman sulit menyerap,” ujarnya dengan bahasa sederhana yang disambut anggukan para petani.
Ia juga menekankan pentingnya tanah yang gembur atau “remah”. Menurutnya, tanah yang sehat akan memudahkan akar berkembang dan memperlancar pertukaran unsur hara di dalam tanah.
Selain itu, Budiwanto mulai mendorong penggunaan pupuk hayati dan mikroba lokal yang mampu membantu memperbaiki struktur tanah secara alami.
“Mikroba itu makhluk hidup. Dia harus cocok dengan kondisi tanah setempat. Kalau tanahnya asam, maka mikroba yang digunakan juga harus yang mampu hidup di kondisi tersebut,” jelasnya.
Sebagai anggota Komisi II DPRD Jawa Barat yang membidangi ekonomi dan ketahanan pangan, Budiwanto berharap pembangunan pertanian ke depan tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga menjaga kesehatan tanah jangka panjang.
“Kalau tanah terus rusak, anak cucu kita nanti yang menanggung akibatnya. Maka mulai sekarang kita harus kembali memperhatikan keseimbangan tanah, bukan hanya mengejar hasil panen sesaat,” pungkasnya. (red).





