PURWAKARTA-Kesuburan tanah menjadi salah satu kunci utama keberhasilan sektor pertanian khususnya di Kabupaten Purwakarta.
Hal tersebut disampaikan oleh H. Budiwanto, S.Si., M.M., saat pertemuan dengan masyarakat dalam agenda pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Kabupaten Purwakarta, kemarin.
Dalam dialog bersama petani dan masyarakat, H. Budiwanto menyoroti pentingnya menjaga kesehatan tanah di tengah tingginya intensitas penggunaan pupuk kimia pada lahan pertanian.
Menurutnya, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah.
“Kalau tanah terus dipaksa dengan pupuk kimia tanpa perbaikan unsur organik, lama-lama tanah menjadi keras, miskin mikroorganisme, dan produktivitas pertanian bisa menurun. Karena itu tanah harus dijaga agar tetap gembur dan subur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu langkah yang perlu diperkuat adalah penggunaan pupuk organik cair (POC) dan pupuk hayati sebagai bagian dari sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Menurutnya, pupuk organik cair atau POC memiliki fungsi utama menambah unsur hara, bahan organik, serta senyawa organik yang dibutuhkan tanah dan tanaman. Dalam regulasi pertanian, standar mutu POC umumnya mengacu pada kandungan karbon organik, tingkat keasaman (pH), serta kandungan unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).
Ia menjelaskan, dalam beberapa ketentuan teknis, kandungan N, P, dan K masing-masing sekitar 5 persen menjadi salah satu indikator standar mutu POC. Kehadiran bahan organik tersebut sangat penting untuk memperbaiki struktur tanah agar lebih remah, mampu menyimpan air, dan mendukung pertumbuhan akar tanaman.
Selain POC, H. Budiwanto juga menekankan pentingnya pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme hidup. Mikroba tersebut berfungsi membantu proses alami di dalam tanah, seperti melarutkan fosfat, menambat nitrogen dari udara, menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman, hingga memperbaiki sistem perakaran.
Beberapa mikroorganisme yang umum digunakan antara lain Azotobacter, Azospirillum, Bacillus sp., Trichoderma, dan Mikoriza. Dalam standar teknis pertanian, kualitas pupuk hayati biasanya diukur berdasarkan jumlah populasi mikroba hidup atau colony forming unit (CFU), yang umumnya berada pada kisaran 10⁷ hingga 10⁸ CFU per mililiter atau gram.
Ia menambahkan, keberhasilan penggunaan pupuk hayati sangat dipengaruhi kemampuan mikroba dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat, seperti pH tanah, suhu, kelembapan, hingga kondisi perakaran tanaman.
Karena itu, mikroba lokal atau indigenous microbes sering dinilai lebih efektif karena sudah terbiasa dengan karakteristik tanah di daerah tertentu, termasuk wilayah pertanian Purwakarta yang memiliki kondisi lahan beragam.
“Pupuk hayati juga harus adaptif. Mikroba yang digunakan harus mampu hidup dan berkembang pada kondisi tanah lokal, termasuk pada tanah yang cenderung asam. Kalau mikrobanya cocok dengan lingkungannya, maka manfaatnya akan jauh lebih optimal bagi tanaman,” jelasnya.
Ia berharap petani mulai mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap pupuk kimia dan mulai menyeimbangkan dengan penggunaan bahan organik serta pupuk hayati.
Menurutnya, pertanian masa depan bukan hanya mengejar hasil panen tinggi, tetapi juga menjaga keberlanjutan kesuburan tanah.
“Kalau tanah sehat, tanaman kuat. Kalau tanah gembur, hasil panen juga lebih subur. Ini yang harus menjadi perhatian bersama agar ketahanan pangan kita tetap terjaga,” pungkasnya. (red).





