Ilustrasi

OPINI-Sejak slogan merdeka belajar yang dicanangkan Nadiem Makarim, jagad pendidikan di Indonesia terguncang. Timbul beberapa pertanyaan mengapa harus membuat slogan tersebut? Memangnya dalam belajar kita belum merdeka? Siapa yang menjajahnya? Siapa yang dijajahnya?

Lahirnya slogan merdeka belajar menunjukkan bahwa kita belum merdeka belajar. Apa buktinya bahwa kita belum merdeka dalam belajar? Ciri khas penjajah adalah menekan yang dijajahnya agar tidak maju, tumbuh dan berkembang.

Sebagaimana beberapa hasil survey dan temuan dari PISA bahwa pendidikan di Indonesia belum mengalami perbaikan yang signifikan. Padahal semenjak reformasi terutama di era setelah Gusdur ada beberapa perubahan terkait gaji dan tunjangan bagi guru, juga ada perubahan struktur pembiayaan dalam APBN Negara kita, yaitu naiknya anggaran pendidikan menjadi 20 persen.

Tetapi mengapa belum berpengaruh besar bagi kemajuan pendidikan?

Pertanyaan berikutnya siapa yang dijajah? Dan siapa yang menjajah? Faktor utama pendidikan adalah manusia baik sebagai subyek maupun obyek pendidikan. Istilah subyek dan obyek pendidikan menjadi bias karena baik guru maupun murid dapat berperan sebagai subyek juga obyek.

Bukan hanya itu pendidikan juga terkait kebijakan dari pejabat baik pejabat birokrasi maupun pejabat politik seperti Presiden, Menteri, Bupati, Kepala Dinas juga Kepala Sekolah. Aktor manusia bisa jadi yang jadi penjajah juga terjajah. Siapa penjajah sesungguhnya yaitu emosi, hasrat serakah manusia yang telah membudaya, menjadi paradigm seolah itulah kebenaran dalam mendidik.

Di sinilah kita harus berani jujur sejujur-jujurnya. Jauhkan pendidikan dari hasrat hewani kita, biarkan pendidikan merdeka agar kita dapat meraih tujuan hidup individu yang pada akhirnya tercipta kebahagiaan berbangsa dan bernegara

Membebaskan diri kita dari keserakahan, hawa nafsu, kepentingan sekelompok orang, elit politik juga dari keinginan hewani itulah tugas pendidikan. Tujuan pendidikan sejatinya diarahkan pada kebahagiaan. Kebahagiaan adalah hakikat dari tujuan hidup manusia apapun agamanya, apapun suku bangsanya.

Kejujuran dan obyektivitas dalam pendidikan menjadi sangat penting dalam menilai diri kita. Megapa pendidikan kita belum maju?

Pak Menteri sudah mencanangkan perang dengan menyiapkan berbagai upaya dan strategi agar kita merdeka. Di antaranya adalah dengan mengadakan membuat slogan merdeka belajar, sekolah penggerak, perubahan seleksi calon guru melalui PPPK, meniadakan ujian nasional, dan melanjutkan kurikulum 2013 menjadi lebih terbuka, bahkan tahun 2022 ini pemerintah ingin membuat atau melanjutkan K 2013 menjadi kurikulum prototive 2022.

Perubahan paradigma pendidkan dan model baru seyogyanya didukung oleh seluruh stake holder dan share holder pendidikan di setiap jenjang pendidikan. Tanpa dukungan kita semua kebijakan dan semangat pemerintah akan sia-sia.

Tidak hanya itu selain dari itu seluruh anak bangsa perlu juga memberikan kritik dan solusi dalam membangun pendidikan Indonesia ke depan. Jadilah pendukung yang kritis agar tidak kebablasan.

Apa, Mengapa, dan bagaimana arah perubahan kurikulum 2022 kita?

Arah perubahan kurikulum 2022 adalah visi Indonesia maju, yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Sementara focus dari sekolah penggerak adalah hasil belajar siswa secara holistic yang mencakup kompetensi siswa literasi, numerasi, dan karakter diawali dengan Kepala sekolah dan Guru yang unggul (https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id).

Sebagaimana dalam laman web site Sekolah Penggerak tampaknya focus pada hasil belajar siswa menjadi penting yaitu bagaimana siswa dapat belajar dengan merdeka.

Belajar merdeka yaitu merdeka dari kungkungan yang membelenggu kebutuhan siswa yang sesuai dengan potensi minat, bakat, passion siswa.

Dalam perspektif teori Gagner dijelaskan bahwa semua siswa adalah cerdas sesuai dengan minat dan bakat (multiple intelligent). Bahkan istilah disabilitas harusnya kita ganti dengan difable (diferent ability).

Terpenuhinya kebutuhan siswa menjadi penting. Guru harus memperhatikan gaya dan kebutuhan siswa. Jika ada 25 siswa di kelas maka guru perlu memberikan perhatian kepada 25 orang siswa tersebut.

Oleh karena itu guru harus dapat menempatkan diri menjadi fasilitator pembelajaran. Personalized learning perlu dipahami dengan baik oleh guru, karena maksimalisasi personalized learning menjadi ciri merdeka belajar bagi siswa.

Setiap individu memiliki keunikan, potensi, dan latar belakang yang beragam. Target capaian siswa hendaknya dapat berbeda satu sama lain, sesuai latar belakang dan keunikannya. Oleh karena itu model pembelajaran yang sesuai harus memberikan keleluasaan bagi siswa untuk mengembangkan dirinya.

Di antara model pembelajaran itu adalah Project Base Learning (PBL) yang dapat menggerakan imajinasi, kreativitas, dan keterampilan anak secara merdeka, dengan PBL siswa mengeksplorasi diri untuk mengerjakan tugas secara mandiri, terbiasa bekerja sama, berkomunikasi, dan pada akhirnya mereka dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. PBL mendidik siswa belajar dengan merdeka.

Penerapan punish dan reward di era kekinian dapat dianggap ketinggalan jaman. Penegakan displin yang berbasis dari dalam siswa (membangun kesadaran)harus mulai diterapkan. Disiplin positif merupakan model pendidikan yang mulai dikembangkan di beberapa Negara maju. Displin positif berbeda dengan menghukum dan memberi hadiah.

Hukuman dan hadiah merupakan faktor eksternal yang kadang menjadikan siswa takut hukuman atau ingin hadiah bukan atas dasar logis dan kebutuhan atau seharusnya.

Displin postif yaitu penegakan displin dengan tujuan membangun kesadaran dalam diri bahwa itu baik bagi dirinya atau baik bagi orang lain. Siswa melakukan atau tidak melakukan sesuatu bukan karena takut tapi karena dirinya merdeka dari rasa takut dan hadiah atau pujian. Sehingga menjadikan siswa berdaulat atas dirinya berdasarkan nilai-nilai kebenaran universal. (Berlanjut)

Penulis : Srie Muldrianto , Dosen dan aktivis Pendidikan di Purwakarta.